Jejak Langkah

Pretimasa dan Kutukan bagi Warga Arenan (Bagian 2 – Habis)

BRALING.COM, PURBALINGGA – Dengan tutur kata yan lemah lembut sebagai tipu muslihat, Nyai Adipati Arenan memanggil saudara kandungnya yang sedang bersembunyi di dalam Watu Wedus itu. [Baca : Pretimasa dan Kutukan bagi Warga Arenan (Bagian 1)]

Semula tidak mau memenuhi panggilan itu, tetapi sesudah diberi tahu bahwa disekitar batu tersebut tak ada seorangpun, maka Pretimasa segera keluar dari tempat persembunyiannya. Kedua orang bersaudara itu terus saling berpelukan sebagai pelepas rasa rindu.

Terdorong oleh rasa letih dan lapar, segera Pretimasa memakan kiriman nasi bersama pindang ikan tambara dengan lahapnya. Namun sama sekali ia tidak menduga, bahwa ratusan pasang mata sedang mengintai dari balik pepohonan di sekitarnya. Begitulah tatkala Pretimasa tengah menikmati nasi dengan pindang ikan tambaranya, tiba-tiba ratusan orang secara serempak menubruknya.

Melihat keadaan berbahaya ini, Pretimasa berusaha menyelamatkan diri masuk kedalam watu wedus kembali. Tetapi ia gagal, karena lubang watu wedus tertutp diduduki oleh Nyai Adipati. Akhirnya secara ramai-ramai gembong penjahat itu dihajar orang banyak yang sedang dibakar oleh kemarahan.

Sesaat sebelum menemui ajalnya, Pretimasa sempat member pesan (pepali), bahwa karena tidak tahu saudara, maka orang-orang Arenan dikelak kemudian dari keturunannya pada saatnya mempunyai cacad “rimang” (penglihatannya kuran jelas). Selain itu orang-orang Arenan yang bertempat tinggal di sebelah barat dan timur kali, dilarang makan pindang ikan tambara.

Kalau pesan ini dilanggar menurut Pretimasa, pasti bisa mendatangkan malapetaka. Salah-salah bisa mati, pesan tersebut memang hingga sekarang masih menjadi kepercayaan turun temurun di sementara penduduk desa Arenan. Apakah selamanya pesa itu akan ditaati? Tentunya tidak, karena pesan sorang penjahat.

Akhirnya mayat Pretimasa kembali dipotong-potong dan masing-masing potongan dikubur di berbagai tempat secara terpisah. Diantaranya ada yang dikubur di Arcatapa, Pagedongan, Siwedus, Setana Wangi dan dipekuburan Makam dawa.

Maka habislah riwayat seorang penjahat ulung bernama Pretimasa yang pernah membuat onar penduduk Kadipaten Arenan waktu itu.

SUKENDAR

Tinggalkan Balasan