Braen, Kesenian Khas Rajawana Bernilai Luhur

BRALING.COM, PURBALINGGA – Suatu masa, Pangeran Mahdum Kusen dipanggil oleh Adipati Onje. Walaupun masih belum jelas maksud panggilan itu, Pangeran Mahdum Kusen menolaknya. Alasannya, meskipun Desa Rajawana termasuk kekuasaan Kadipaten Onje, namun desa ini sebenarnya adalah milik Allah SWT. Ia hanya mau menemui bila Adipati Onje datang ke Rajawana.

Penolakan itu ternyata dianggapnya sebagai suatu penghinaan. Atas kemarahannya, Adipati Onje lalu mengirimkan pasukan untuk menangkap Pangeran Mahdum Kusen. Tapi sial, sebelum pasukan dari Onje itu memasuki Desa Rajawana yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karangmoncol, hari sudah malam..

Akhirnya kedatangan pasukan ini dapat diketahui oleh masyarakat Rajawana termasuk Pangeran Mahdum Kusen. Dengan kondisi genting yang ada Pangeran Mahdum Kusen kemudian mengumpulkan beberapa orang wanita agar membunyikan rebana diserambi muka. Sedangkan ia sendiri melakukan Sholat Hajat didalam kamar.

Bersamaan dengan terdengarnya suara musik rampak itu, ribuan ekor tawon gung secara tiba-tiba terbang melabrak prajurit Onje yang tengah bersiap-siap bermalam di tepi sungai. Karena tak tahan menghadapi binatang bersengat tersebut, terpaksa mereka lari tungang langgang dan pulang kembali ke Onje.

Musik khas dengan suara dari tabuhan terbang (semacam rebana dengan ukuran lebih besar) itu kemudian dikenal sebagai Braen. Syairnya penuh dengan lantunan doa dan permohonan. “Awang uwung awang uwung…Ratu Tidar yangaratu…Yangayuga bumi langit…Rohaya gelu…Manda tuanku…Yuga.”

Braen dimainkan oleh sembilan sampai 15 perempuan. Salah satu personelnya menabuh terbang. Penabuh terbang disebut Rubiyah (penabuh braen). Selain menabuh terbang, Rubiyah juga melantunkan syair-syair berisi permohonan kepada Sang Kuasa. Syairnya sendiri tercatat rapi dalam sebuah lembaran catatan bertuliskan arab, meski bukan bahasa Arab.

Sementara itu, delapan perempuan lainnya bersimpuh di sekitar sang Rubiyah. Mereka juga melantunkan syair yang sama dengan Rubiyah. Hanya saja, mereka tidak memainkan alat musik apapun. Biasanya, kesenian Braen yang penuh ritual adat ini dimainkan pada upacara seperti upacara kelahiran anak, peringatan meninggalnya seseorang ataupun hajatan lainnya.

Yang unik dari kesenian ini adalah penabuh Braen merupakan perempuan keturunan Pangeran Mahdum Kusen. Mahdum Kusen merupakan tokoh penyebar Agama Islam di Bumi Cahyana sekitar abad 15. Di Cirebon, ada kesenian menyerupai Braen, yakni Brai. Adik Mahdum Kusen yaitu Pangeran Mahdum Medem yang dipercaya membawa kesenian itu ke Cirebon.

SUKENDAR | DARI BERBAGAI SUMBER

Satu tanggapan untuk “Braen, Kesenian Khas Rajawana Bernilai Luhur

Tinggalkan Balasan

Read previous post:
Jajanan Sekolah Bisa Mengandung Narkoba, Awasi Jajan Anak!

BRALING.COM, PURBALINGGA - Para orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar harus waspada terhadap jajanan yang dijual di sekitar sekolah....

Close