Gaya

Facebook Semakin Ditinggalkan Kaum Remaja

BRALING.COM, PURBALINGGA – Hanya dalam waktu sepuluh tahun, Facebook sudah meraup lebih dari 1 miliar pengguna. Alhasil. media sosial buatan Mark Zuckenberg ini menjadi jejaring sosial terbesar di dunia. Hingga Juni 2014 tercatat pengguna Facebook mencapai lebih dari 1,3 milliar.

Di Indonesia, pertumbuhan Facebook juga bisa dibilang sangat pesat. Sampai dengan September 2014, Facebook memiliki sekitar 69 juta pengguna di Indonesia. Banyak orang menghabiskan waktunya untuk berinteraksi di media sosial ini.

Namun begitu, seperti dikutip dari The Marketeers, GlobalWebIndex malah menyebutkan, sesungguhnya pengguna aktif Facebook mengalami penurunan. Berdasarkan riset yang melibatkan 170 ribu responden di 32 negara, riset GlobalWebIndex menemukan statistik pengguna Facebook yang masih berkirim pesan kepada teman-temannya mengalami penurunan.

Pada empat bulan (kuartal) pertama 2013 ada sekitar 512 juta pengguna, namun bila dibandingkan kuartal pertama tahun 2014 terjadi penurunan sekitar 20%. Di kuartal pertama tahun 2014 jumlah pengguna Facebook menjadi 402 juta. Angka ini terus menurun sampai kuartal ketiga tahun 2014.

Hingga kuartal ketiga tahun 2014 ini, pengguna Facebook yang masih berkirim pesan kepada rekan-rekannya melorot hingga 313 juta. Penurunan ini terjadi pada para pengguna Facebook yang masih usia masih remaja. Temuan GlobalWebIndex mendapatkan 64% remaja sudah jarang aktif di Facebook.

Bahkan, 50% kelompok remaja menganggap Facebook tidak semenarik dahulu. Sebagian dari mereka juga beranggapan bahwa Facebook dianggap membosankan, sehingga para remaja mulai mengurangi waktu penggunaan jejaring sosial tersebut.

“Ada sentimen tertentu terhadap produk buatan Facebook, meskipun kebanyakan orang sudah terbiasa dengan produk Facebook, namun sebagian lainnya mulai bosan,” ujar Head of Trends GlobalWebIndex Jason Mander di Jakarta 25 November 2014.

Remaja di berbagai negara itu juga kini semakin lebih tertarik menggunakan aplikasi seperti Instagram dan Path yang lebih privat dan aplikasi berbagi pesan seperti WhatsApp, WeChat dan Line.

“Polanya, orang merasa tidak nyaman untuk membagi informasi seputar keseharian mereka di jejaring sosial. Mereka beralih ke aplikasi mobile messaging karena mereka menilai hal itu lebih aman dan bisa dikontrol,” ujar Jason menambahkan.

BANGKIT WISMO


Tinggalkan Balasan