Pilihan

Status Gunung Slamet Masih Siaga III

BRALING.COM, PURBALINGGA – Sekalipun, sudah mulai berkurang berkurang, hingga sekarang aktivitas vulkanik Gunung Slamet masih tinggi. Ini didasarkan pada data 17 November 2014 di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Ketua Tim Tanggap Darurat PVMBG Bandung Imam Santoso mengungkapkan hal tersebut, dalam kegiatan penyusunan rencana kontinjensi erupsi Gunung Slamet Kabupaten Purbalingga, Selasa 18 November 2014 di Ruang Rapat Gedung A Setda Purbalingga.

“Tingkat aktivitas Gunung Slamet hingga saat ini, masih siaga level III,” ujar Imam Santosa. Dijelaskan, aktivitas puncak secara visual, hingga saat ini, ditandai dengan terlihatnya asap putih tipis sedang, hingga tebal antara 50-1.500 meter.

Aktivitas kegempaan vulkanik Gunung Slamet, hingga saat ini, didominasi oleh gempa hembusan. “Rata-rata 500 kali kejadian per hari,” tambahnya.

Dari pengamatan, energi kegempaan atau RSAM menunjukkan kecenderungan menurun, namun belum signifikan. Data geokimia berupa suhu mata air panas di lokasi Sicaya dan Pandansari cenderung sedikit meningkat, walau pun fluktuasi. Sedangkan, data deformasi berfluktuasi.

Imam juga mengungkapkan PVMBG sudah membuat peta kawasan bencana Gunung Slamet dalam radius 2 Km. Yang terdiri dari, kawasan rawan bencana III, yakni kawasan yang selalu terancam awan panas, gas racun dan aliran lava. Kawasan ini, juga terancam lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Sedangkan kawasan rawan bencana II, yakni kawasan yang berpotensi terlanda awan pamas, aliran lava dan lahar hujan. Kawasan ini, berpotensi terlanda hujan abu lebat dan lontaran batu pijar. Kawasan ini berada radius empat kilometer dari puincak.

Berdasarkan peta kawasan rawan bencana Gunung Slamet juga terdapat kawasan rawan bencana I. Yakni, kawasan yang berpotensi terlanda lahar hujan. Serta berpotensi terlanda hujan abu dan kemungkinan dapat terkena lontaran batu pijar. Kawasan ini berada dalam radius delapan kilometer dari puncak.

Imam juag mengungkapkan, Gunung Slamet memiliki potensi bahaya jika terjadi erupsi. Yakni erupsi masih berpotensi terjadi, yang mengeluarkan material berukuran abu atau kurang dari dua milimeter, sampai lapili dengan ukuran dua hingga 64 milimeter.

Juga berpotensi lontaran batu pijar dan hujan abu lebat. Ancaman ini, terdapat di dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi. “Sedangkan material erupsi abu vulkanik bergantung besar dan arah angin dari pusat erupsi,” tambahnya.

Erupsi yang menghasilkan aliran lava dan awan panas berpotensi terjadi di dalam radius empat kilometer. “Potensi terjadinya lahar dapat berasal dari endapan abu atau material erupsi dan curah hujan tinggi. Lahar berpotensi di lembah-lembah sungai yang berhulu di Gunung Slamet,” ucap Imam.

Kegiatan tersebut menurut Muksoni dari Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Purbalingga, akan berlanjut hingga Kamis (20/11) besok. “Kegiatan ini, dilangsungkan selama tiga hari, dengan menghadirkan berbagai narasumber,” kata Muhsoni.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan