Pawarta

Surat untuk Bupati dari Akmal Al Ajial

Yth. Bapak Bupati Purbalingga
di Tempat
Assalamu’alaikum wr. wb

Pertama, saya berterimakasih kepada Allah SWT yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menulis surat ini kepada Bapak Bupati Purbalingga, Bapak Drs. H. Sukento Ridho Marhaendrianto, MM. Selanjutnya, saya juga berharap agar Bapak Bupati selalu diberi kesehatan agar dapat menjalankan tugas dalam melayani masyarakat dengan baik, dan selalu diberi kekuatan untuk selalu berada dalam jalan yang benar.

Izinkan saya memperkenalkan diri saya.Nama saya Akmal Al Ajial, kelas XI dan bersekolah di SMA Negeri 2 Purbalingga.

Bapak Bupati, dengan hormat saya merasa bangga dengan pengangkatan Bapak sebagai Bupati. Sehingga, saya berharap agar Bapak bisa terus meningkatkan semangat, kosistensi, dan motivasi dalam menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin di Kabupaten Purbalingga tercinta ini.

Selain itu, saya juga bangga dengan pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Purbalingga. Hal itu dapat dilihat dari semakin ramainya jalan raya dengan motor dan mobil pribadi, kendaraan yang berlalu lalang dengan muatan barang di belakangnya dan kegiatan perekonomian lainnya di Purbalingga, dan juga terjaganya kebersihan dan kerapihan tata kota di wilayah Kabupaten Purbalingga, terutama di pusat dari Kabupaten Purbalingga.

Saya sebagai pelajar juga merasa senang dan bangga dengan kebijakan – kebijakan yang sampai saat ini terus dilakukan.Salah satunya yaitu dengan tidak mengizinkan pembukaan supermarket atau mall di wilayah Purbalingga. Karena kita tahu NKRI tidak menganut sistem kapitalisme dalam sistem ekonominya, tetapi, menganut demokrasi ekonomi yaitu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh dan untuk rakyat dibawah pimpinan dan pengawasan pemerintah. Dengan ini saya patut bangga dengan Pemkab.Yang sadar betul tentang hal itu. Karena banyak wilayah lain yang masih belum sadar akan hal itu. Selain itu juga warga tidak tersaingi habis – habisan jika supermarket dan mall tidak ada. Kita dapat bayangkan jika ada satu saja supermarket atau mall di wilayah Purbalingga, maka toko, warung, pasar, dan pedagang kecil akan hancur bisnisnya karena kalah modal dan berbagai hal jika dibandingkan dengan supermarket atau mall, sehingga banyak warga yang menganggur dan dapat menjadi permasalahan baru di masyarakat. Kita semua pun tidak ingin hal itu terjadi. Saya berharap agar kedepannya Pemerintah tetap konsisten terhadap kebijakan baik ini, serta membuat warga Purbalingga sejahtera, kreatif, mempunyai daya saing dan makmur di masa depan.

Selain rasa senang, ada sedikit rasa yang mengganggu dari hati saya ketika melihat banyak minimarket yang telah tersebar dan menjamur semakin banyak dari waktu ke waktu.Saya berpikir hal itu harus bisa di kendalikan.Walaupun, mungkin bapak berpikir hal itu wajar, karena di Indonesia dan bahkan dunia memang sebagian besar perekonomiannya dikuasai oleh minimarket. Tapi, saya ingatkan bahwa jika terus seperti ini, maka akan timbul persaingan yang timpang antara pihak minimarket dengan pihak toko/warung/pasar/pedagang kecil. Kita tahu minimarket dimiliki oleh orang yang mempunyai modal besar, dan dapat membuat cabang dima pun sesukannya. Tapi, disisi lain warga anda yang ada di toko, warung kecil, di pasar, dan pedagang kecil akan bingung karena tidak bisa mengimbangi persaingan yang tidak seimbang tersebut. Jika dibiarkan, mungkin dimasa depan warga Purbalingga akan menjadi konsumtif dan tak bisa kreatif membuat suatu roda perekonomian, sehingga pengeluaran warga akan menjadi lebih besar daripada pemasukan. Hal itu akan memicu pengangguran, kriminalitas dan permasalahan masyarakat lainnya.

Sebagai contoh beberapa minimarket yaitu yang terdapat pada depan Pasar Segamas, lalu, kita jalan menuju arah Terminal Purbalingga, kita akan menemukan diseberang jalannya. Selanjutnya, tak sampai satu menit menuju arah Makam Pahlawan Purbosaroyo didepannya pun ada minimarket. Seakan – akan mereka ingin memaksakan untuk menguasai pasar menyaingi warung – warung kecil yang sudah pasti kalah telak jika dibandingkan. Tapi, mungkin Pemkab melihat hal ini adalah hal positif karena mereka jauh lebih bersih tempatnya dibandingkan dengan pasar dan ada yang buka sampai malam dan 24 jam yang dapat membantu warga dalam mencari kebutuhan saat tengah malam. Bagi saya itu juga ide bagus.Tapi, tidak ada salahnya jika kita memberdayakan masyarakat kita sendiri dengan mengkontrol jumlah minimarket dan mengembangkan para pemilik toko, warung kecil hingga nanti pada saatnya usaha mereka dapat sukses.Jadi, bagi saya tak masalah jika Purbalingga tak punya supermarket, mall atau sedikit minimarket, tapi masyarakat dapat lebih leluasa dalam mendapatkan akses untuk melakukan pertumbuhan dan perkembangan usahanya.

Selain hal diatas, saya juga semakin prihatin dengan akhlak para pemuda di Kabupaten Purbalingga yang semakin lama semakin buruk.Saya tahu karena saya berada dalam lapangan langsung.Sekarang para pemuda lebih banyak tidak mempunyai tata krama, perilaku yang baik, walaupun masih banyak juga yang baik, tapi setidaknya harus dapat dicegah. Dan masalah ini tampaknya terjadi karena kurangnya pengawasan dari orang tua dan kurangnya ilmu agama dan pergaulan yang sudah bebas serta pengaruh media massa yang selalu mendoktrin secara perlahan – lahan membentuk karakter buruk terhadap remaja yang belum mempunyai prinsip dan pegangan yang kuat. Yang pasti jangan sampai pemuda Purbalingga ini yang seharusnya menjadi harapan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan yang sudah pasti akan diterima malah menjadi bumerang yang menyerang balik. Entah dengan melakukan sosialisasi, berbagai seminar, membuat slogan yang dapat berengaruh baik dengan baliho, atau mewajibkan sekolah mengadakan masjid atau mushala, atau mengadakan pengajian yang wajib untuk siswa atau dengan berbagai cara yang lain yang dapat merubah cara pikir mereka menjadi lebih baik.

Yang berhubungan erat dengan itu salah satunya adalah masalah balapan liar yang sudah marak oleh para pemuda.hal ini terjadi bukan di Purbalingga saja, tetapi di setiap daerah pasti ada.Tapi, saya berpendapat agar mereka lebih diarahkan agar tidak mengganggu dan balik menjadi manfaat. Pada dasarnya balapan liar dan resmi adalah sama yaitu balapan. Yang membedakan adalah liar tidak mendapat izin dan ilegal, dan jika resmi artinya telah mendapatkan izin.Yang membuat mereka melakukan balapan liar adalah karena tidak adanya wadah.Tapi, jika mereka diarahkan dengan baik dengan memberikan akses seperti mengadakan balapan resmi secara rutin, dan memberikan penghargaan. Dengan melakukan itu mereka akan terarah dan belajar mengikuti peraturan serta lebih menjadi lunak dan lebih patuh terhadap peraturan. Saya tahu betul keinginan mereka walaupun saya tidak pernah berada dalam lingkungan mereka. Jika kita mau berpikir, kegiatan yang menurut umum tidak ada artinya, tapi jika dapat mengarahkan mereka maka akan muncul hal positif. Mungkin saja ada jiwa pembalap yang lahir di Purbalingga, yang hanya saja tak dapat akses hanya akan menjadi pembalap liar yang biasa saja. Semua hal dapat terjadi dan tak mungkin tidak terjadi.

Saya juga ingin menyampaikan agar Pemerintah Kabupaten Purbalingga dapat memberikan lagi lebih banyak lapangan pekerjaan, dan peningkatan UKM.

Waktu demi waktu terus berjalan, sedangkan Kabupaten Purbalingga warganya banyak tergantung pada sektor industri rambut palsu.Disana wanita bekerja dan bahkan banyak yang menjadi tulang punggung keluarga karena banyak yang suami mereka tidak bekerja.Sedangkan sekarang ini semakin banyak penemuan – penemuan dalam bidang industri. Yang menjadi masalah adalah jika misal mesin pemuat rambut palsu digunakan dalam industri rambut palsu di Kabupaten Purbalingga, maka akan terjadi banyak masalah sosial baru, salah satunya pengangguran, dan setelah itu ekonomi di Purbalingga akan turun drastis. Maka dari itu, perlu pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi.

Tapi, Semua hal yang saya tulis diatas hayalah sebagian kecil isi hati saya, tapi saya merasa lebih baik karena telah saya ungkapkan. Dan saya berharap Bapak Bupati dapat mengerti apa yang saya tulis dan menjadi pembelajaran, pertimbangan, atau hanya sekedar menambah ilmu pengetahuan. Tapi, intinyanya bagi saya adalah keinginan untuk Purbalingga menjadi lebih baik dan menjadi contoh bagi daerah lain pada masa depannya. Saya juga berharap Bapak dapat mengambil kebijakan yang benar. Saya akan sangat menghargai jika Bapak Bupati dapat mengambil sisi positif dari surat yang saya tulis ini.

 

Saya berterimakasih kepada Allah SWT karena saya telah menulis surat ini dengan sebaik – baiknya, dengan pertimbangan, dan melihat lapangan. Tetapi, saya hanya pelajar dan jika ada kesalahan pada kata atau ada kalimat yang kurang berkenan di hati Bapak Bupati, saya pribadi meminta maaf, dan menerima kritik dari Bapak.

 

Saya mengucapkan semangat kepada Bapak dalam menjalankan tugas hingga akhir masa jabatannya. Semoga surat ini dapat bermanfaat, dan menjadikan sedikit gambaran masyarakat dalam Kabupaten Purbalingga. Dan ucapan terimakasih jika bapak membaca surat ini dan saya harap Bapak menyukainya.Terimakasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb

 

Purbalingga, 11 November 2014

Hormat saya,

 

Akmal Al Ajial

Tinggalkan Balasan