Pawarta

Surat untuk Bupati dari Nurul Priyanti Fatimah [Juara I]

Purbalingga, 13 November 2013

 

Kepada Yth:

Bapak Sukento Ridho Mahendrianto

Selaku Bupati Purbalingga

 

Bapak Bupati yang terhormat

Surat ini adalah surat pertama yang saya kirimkan untuk Bapak. Sebelumnya, perkenalkan dahulu, nama saya Nurul Priyanti Fatimah. Saya seorang pelajar di salah satu sekolah di Purbalingga, tepatnya di SMAN 1 Karangreja.

Bapak Bupati yang saya banggakan….

Saya ingin bercerita sedikit tentang kepiluan anak bangsa yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena perekonomian yang menjadi masalahnya. Saya lahir dari keluarga kurang mampu dan mempunyai orang tua yang merasa  bangga bisa menyekolahkan dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Alhamdulillah hingga saat ini. Saya mulai bersekolah di SDN 1 Gondang. Sebuah sekolah sederhana yang sampai saat ini masih teringat selalu di benak saya. Di sekolah inilah pertama kali saya memiliki cita-cita ingin menjadi seorang guru. Guru yang bisa membawa bangsa dan negara ini lebih baik,  Khususnya adalah di Kota Perwira agar lebih maju dan lebih dipandang oleh dunia luar. Amin…

Bapak Bupati yang terhormat…

Saya akan bercerita sedikit tentang teman-teman saya. Sampai saat ini, saya masih mengingat jelas wajah-wajah mereka. Wajah pilu anak-anak yang ingin bersekolah. Tetapi, keadaan telah merampas mimpi mereka. Mereka tidak mampu untuk meneruskan pendidikannya hanya karena faktor ekonomi. Mereka anak muda penerus bangsa yang harusnya lebih diperhatikan oleh pemerintah malah sekarang terlantar. Cita-cita mereka terputus begitu saja  karena perekonomian keluarga mereka yang kurang mampu.

Ketika saya masih menikmati pendidikan di sekolah dasar, saya senang mendengar cita-cita teman-teman saya. Ada yang ingin jadi guru, dokter, polisi bahkan profesor. Sebelum saya lulus dari sekolah dasar saya telah bermimpi bersama teman-teman saya kelak akan menjadi orang yang sukses, menjadi seorang sarjana.

Ketika pendaftaran Sekolah menengah pertama tiba, saya sangat sedih karena teman terbaik saya  tidak bisa melanjutkan sekolahnya, lagi-lagi karena faktor ekonomi. Melihat sekolah yang baru dibangun di desa saya, saya dan teman-teman saya semangat sekali ingin melanjutkan. Tetapi keluarga teman saya tidak setuju, mereka pikir pendidikan itu tidak penting. Masyarakat di sekitar tempat saya tinggal masih memiliki prinsip “ nggo apa bocah wadon sekolah duwur-duwur paling akhire nang dapur” ya mungkin kata-kata ini sudah populer di kalangan masyarakat Purbalingga. Seketika itu saya sangat sedih karena cita-cita teman saya harus dikubur dalam-dalam dengan prinsip yang dimiliki keluarganya itu.  Pada akhirnya, teman saya pergi merantau ke ibu kota. Jika ingat itu, hati saya menangis. Pastinya bapak juga demikian. Saya yakin teman saya memiliki potensi untuk menjadi seseorang yang sukses jika dia melanjutkan pendidikannya. Tapi takdir berkata lain. Pertama, saya kehilangan seseorang yang akan meneruskan cita-cita bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan lebih terpandang.

Setelah saya selesai melanjutkan pendidikan di SMP. Saya kehilangan lagi teman terbaik saya. Kali ini juga sama, karena faktor ekonomi keluarganya. Tapi, kali ini teman saya ini mempunyai tekad yang tinggi ingin bersekolah. Hanya saja, ia harus bekerja dahulu sebelum melanjutkan pendidikannya ke jenjeng yang lebih tinggi. Betapa pilu hati saya mendengar dan melihat teman saya harus bekerja keras demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Teman saya ini cukup berprestasi di sekolah. Tetapi kenapa hanya karena ekonomi, dia harus bekerja mati-matian untuk bersekolah.

Seperti inilah keadaan di daerah seberang, Bapak Bupati. Saya berharap pemerintah bisa menanggapi masalah ini.

Bapak Bupati yang saya banggakan…

Saya ada pertanyaan untuk Pemerintah Kabupaten Purbalingga, yang dikenal dengan Kota Perwira ini. Perwira berarti bertanggung jawab. Saya tahu, banyak sekali tanggung jawab Bapak Bupati yang harus dijalankan. Tetapi, kami juga memiliki hak untuk bersekolah. Saya tahu Pemerintah telah mengadakan BSM ke seluruh sekolahan di sudut kota, dan biaya operasional atau bantuan untuk siswa miskin itu turun langsung dari pemerintah pusat untuk diberikan kepada yang membutuhkannya. Tetapi faktanya banyak generasi penerus bangsa yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Kenapa masih banyak anak yang kekurangan biaya sekolah?

Saya sangat bersyukur. Saya masih bisa melanjutkan pendidikan. Bahkan Pemerintah saat ini mengadakan kebijakan wajib belajar 12 tahun. Tentu saja tujuannya agar generasi penerus bangsa bisa lebih berkualitas, lebih kreatif, inofatif dan tentu dapat membawa Indonesia ke depan pintu gerbang kemajuan dan kesejahteraan di masa yang akan datang.

Tetapi saya juga berfikir bagaimana akan sekolah selama 12 tahun sedangkan biaya tak mencukupi untuk melanjutkan sekolah. Biaya sekolah setiap tingkatan terus melonjak ke arah yang makin tinggi dan kenaikan yang signifikan. Hal ini yang membuat kami, pelajar miskin takut tak dapat melanjutkan sekolah dan putus sekolah hanya karena masalah perekonomian belaka.

Tetepi saya berfikir ulang perekonomian juga tidak terlalu berperan dalam mempengaruhi pendidikan tetapi minat juga sangat mempengaruhi . Dimana siswa tidak memiliki keminatan lebih, untuk belajar namun dalam kalangan masyarakat menengah ke atas, tentu tidak akan berhasil dalam pembelajaran di sekolah dan berujung sia-sia. Tetapi seorang siswa miskin yang mempunyai cita-cita yang tinggi dalam belajar walau dia adalah orang yang termasuk ke dalam golongan masyarakat menengah ke bawah, tentu akan di mudahkan segala urusan dalam menuntut ilmu oleh yang Maha Kuasa.

Bapak Bupati yang saya hormati…

Di masa yang akan datang, bagaimana Negara ini akan maju, jika masih ada kesenjangan dalam pendidikan. Jika masih dibeda-bedakan pendidikan antara si kaya dan si miskin. Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Semoga bisa menjadi pertimbangan untuk Purbalingga ke depannya. Harapan saya, semoga semua anak di Indonesia, khususnya Purbalingga, bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

Saya ucapkan terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca surat saya. Semoga Bapak selalu dalam lindungannya…

Tinggalkan Balasan