Gaya Pilihan

SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol; Fasilitas Belajar, Film dan Semangat Bersekolah

BRALING.COM, PURBALINGGA – Terbalik dengan kondisi sekolah yang tidak memiliki fasilitas belajar memadai dan akses yang tidak mudah dilalui, SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol yang berada di pedalaman Desa Tujungmuli, Kecamatan Karangmoncol justru terus bersinar.

Sejak beberapa tahun terakhir, sejumlah film pendek hasil karya siswa SMP yang sudah pernah disinggahi Andi F Noya, presenter Kick Andy di Metro TV, terus berjaya di banyak festival film. Bahkan tidak sedikit piala yang dibawa pulang dari berbagai festival film bergengsi itu.

Terbaru, film berjudul “Sugeng Rawuh Pak Bupati” arahan sutradara Eko Junianto, 15 tahun, siswa kelas IX, menyabet penghargan Ki Hajar kategori Video Edukasi terbaik. Eko menerima penghargaan yang diserahkan langsung Mendikbud Anies Baswedan di Jakarta.

Di tengah segala keterbatasan, pelajar di sekolah ini seolah ingin menyampaikan pesan bahwa mereka bisa tetap berprestasi. Tak ada gedung mewah, fasilitas melimpah apalagi perangkat berteknologi mutakhir layaknya di sekolah-sekolah kota. Cukup ide dan imajinasi, dan karya edukatif itu tercipta.

Putra pasangan Narsudin dan Karsini ini melihat penggunaan pestisida di desanya sampai pada tahap mengkhawatirkan. Bahkan, untuk membersiihkan rumput liarpun harus menyemprot dengan bahan kimia berbahaya. Berangkat dari kegelisahannya ini, munculah ide mengangkat realitas ini ke layar kaca.

Film Sugeng Rawuh Pak Bupati menceritakan tradisi desa menyambut pejabat besar yang hendak berkunjung. Alkisah, bupati berencana datang meninjau kondisi desa. Ketua RT sebagai penguasa kecil di wilayah langsung mendaulat jajarannya untuk membersihkan rumput yang mulai meninggi di sepanjang jalan yang akan dilewati bupati.

Juru pemberantas rumput berpikir keras bagaimana memusnahkan rumput yang jumlahnya bejibun ini dalam waktu singkat. Ia lalu menempuh jalan pintas dengan menyemprot rumput dengan zat kimia mematikan.

“Setelah disemprot, ada warga yang merumput untuk ternaknya. Hewan ternaknyapun mati setelah memakan rumput itu. Padahal, kambing itu satu-satunya hewan ternak yang akan dijual untuk biaya mencari ayahnya yang tak kunjung pulang dari perantauan di Jakarta,” kata dia saat ditemui di sekolahnya.

Film ini dipilih sebagai media menyampaikan pesan karena dinilai efektif. Sejak pemutaran film melalui layar tancap di desa setempat beberapa tahun silam, ia dan guru pendampingya menyadari masyarakat sangat menggemari jenis hiburan massal ini.

Semula, video dibuat hanya untuk promosi sekolah. Video profile ini ternyata mampu menarik minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya. “Tadinya, begitu lulus SD, anak-anak langsung nikah. Kalau tidak ya bekerja atau membantu orangtuanya,” kata Wildan Muhid SPsi, guru BK pendamping ekskul Cinematografi.

Inilah pula tonggak sejarah pembangunan SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol. Memfasilitasi anak yang memiliki minat belajar tinggi, sekolah ini didirikan meskipun masih satu menejmen dengan SDN Karangmoncol tahun 2007 lalu.

Semula hanya ada 39 siswa. Namun pada tahun berikutnya, siswa terus bertambah. Sekarang ada 280 siswa yang bersekolah di sekolah ini. “Kebanyakan karena terinspirasi film. Orang tua ke sini karena ingin bisa bikin film,” ujar dia.

Sekolah ini kini memiliki sembilan ruang kelas dan perpustakaan yang disekat menjadi ruang TU, Kantor Guru dan sebuah ruang kelas. Empat kelas di antaranya terpisah dan berdiri di atas tanah desa dengan jarak kurang lebih 200 meter.

Kondisi ini banyak menyulitkan guru yang semuanya masih berstatus honorer. Ada 12 guru ditambah satu guru agama dari SD yang diperbantukan. “Kabarnya mau dibangun tiga kelas menggunakan APBD II, tetapi gagal lelang,” katanya.

Saat ini tengah dibangun masjid sekolah. Masjid sebagian besar dibangun menggunakan uang hasil penghargaan film karya peserta didik. Sisanya donasi berbagai kalangan. Film karya Eko cs ini juga masuk nominasi film pendek ACFEST Jogjakarta 2014. Malam penganugrahan akan akan digelar tangga 11 Desember mendatang. Eko dengan didampingi guru pendampingnya akan berangkat ke Yogyakarta.

Eko terpaksa izin meninggalkan UAS yang kini masih berlangsung. Meskipun disibukan dengan aktifitas ekskul, nyatanya Eko masih menempati posisi pertama paralel di sekolahnya. Ia justru mengaku termotivasi untuk belajar lebih baik sejak mengenal film.

Kelak ia bercita-cita bekerja di dunia yang tak jauh dari bidang yang ditekuninya, yaitu multimedia. “Kami berharap perhatian pemerintah untuk anak berprestasi seperti Eko. Orang tua Eko hanya bekerja sebagai penderes, jika harus membiayai sendiri, sulit untuk menempuh jenjang pendidikan sesuai cita-citanya,” kata Wildan.

RUDAL AFGANI DIRGANTARA

Tinggalkan Balasan