Pawarta

Kenapa PLTP Gunung Slamet Pantas Ditolak?

BRALING.COM, PURWOKERTO – Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Gunung Slamet yang saat ini masuk pada tahap eksplorasi terus mendapat penolakan dari pemerhati lingkungan. Kenapa proyek panas bumi di Gunung Slamet ini terus mendapat penolakan?

Sejumlah elemen di Purwokerto menyebutkan proyek ini menjadi ancaman serius terhadap keberadaan sumber mata air masyarakat. Hal ini disebabkan karena pembukaan lahan dengan cara melakukan pembabatan hutan dalam jumlah yang sangat besar.

Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan untuk proyek panas bumi yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tahun 2012 adalah 44 Hektare. Dan pada Oktober 2016, telah keluar izin baru seluas 488,28 Hektare. Sedangkan untuk Wilayah Kerja Pertambangan (WKP) Panas Bumi di Gunung Slamet yang dikeluarkan oleh Kementerian ESDM adalah 24.660 Hektare yang 90 persennya berada di kawasan hutan lindung.

“Dari hasil analisis data yang dilakukan oleh Kompleet, total luasan hutan yang akan dibabat ketika proyek panas bumi sudah beroperasi adalah mencapai lebih dari 600 Hektare. Ini mencakup pembukaan akses jalan, landasan pengeboran, jalur pipa, embung dan fasilitas penunjang lainnya,” kata Dhani Armanto, pegiat Komunitas Peduli Slamet (Kompleet) Purwokerto.

Dari data Dinas Lingkungan Hidup & Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banyumas, sebelum adanya proyek PLTP di Gunung Slamet, dalam kurun waktu sepuluh tahun, dari 2001 sampai dengan 2011 ada 1.321 mata air yang hilang. Faktor penyebabnya alih fungsi lahan dan perambahan hutan (deforestasi).

“Tanpa adanya proyek panas bumi di Gunung Slamet saja, ribuan mata air sudah hilang akibat alih fungsi lahan dan deforestasi. Potensi hilangnya sumber mata air akan lebih besar lagi terjadi dan ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat,” ujar Dhani Armanto dalam keterangan pers yang diterima Braling.com.

Hutan lindung Gunung Slamet merupakan hutan hujan tropis dataran tinggi yang terbentuk ribuan tahun secara alami dan saat ini menjadi jantung hutan alam di Pulau Jawa dan menjadi penyangga ekosistem di Jawa. Pembabatan hutan dan alih fungsi hutan dalam jumlah besar akan sangat berpengaruh pada kestabilan ekosistem di Jawa.

“Dari hasil penelitian Corey-bradshaw pada tahun 2007, Setiap sepuluh persen hutan ditebang, potensi bencana tanah longsor, banjir dan kekeringan meningkat lima sampai delapan persen. Sementara saat ini keberadaan hutan alam di Jawa sudah kurang dari lima persen, potensi terjadinya bencana akan meningkat jika alih fungsi lahan hutan terus dilakukan,” kata Dhani Armanto.

BANGKIT WISMO

4 thoughts on “Kenapa PLTP Gunung Slamet Pantas Ditolak?”

  1. MENGAPA ADA MAHASISWA YANG DEMO MENOLAK PLTP GUNUNG SLAMET?
    Apa karena alasan lingkungan?
    Proyek PLTP dengan skala kapasitas yang sama dampak lingkungannya hanya 10% dari bangunan waduk untuk membangun PLTA.
    Apa karena alasan ekonomi?
    Justru PLTP punya nilai ekonomi bagus dan merupakan sumber energi terbarukan. Selama bumi masih berputar maka PLTP tetap bisa berproduksi.
    Apa karena alasan politik?
    Bisa saja. Sebab PLTP Gunung Slamet merupakan wujud prestasi perjuangan gubernur Jabar yang secara ideologis tidak disukai oleh kaum radikal sekuler.
    Entahlah.
    Mungkin dari pihak Jawa Tengah kurang sosialisasi pada rakyatnya sehingga banyak yang gagal paham.

    1. Tapi kalo dampak ke depannya banjir semakin sering,gunung slamet jadi lebih aktif apakah pltb bisa menjamin keslamatan orang2 di pulau jawa..terutama jawa tengah..kl daya kekuatan gunung slamet digunakan dari mata air menjadi berkurang,terjadi banjir bandang lebih parah,hewan2 turun ke rumah2 penduduk, jeleknya lah..kl gunung slamet itu mulai menampakkan tanda2 akan meletus..gmna?? Apa bisa pltb bisa menjamin gunung slamet nda bakal aktif??

Tinggalkan Balasan