Plesir

Festival Congot yang Tak Boleh Dilewatkan

BRALING.COM, PURBALINGGA – Kota Perwira kembali diramaikan oleh festival di penghujung tahun 2017. Kali ini, festival yang layak untuk diregudhugi adalah Festival Congot di Desa Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon, 13 – 15 Oktober 2017.

Festival Congot akan mengangkat potensi lokal dalam balutan adat istiadat dan pariwisata desa. Sebagai informasi, Desa Kedungbenda dan Desa Onje Mrebet menyandang status sebagai desa adat sesuai peraturan Peraturan Gubernur Nomor 70 Tahun 2016.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga Heriyanto berkata, Festival Congot menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam melestarikan kearifan lokal.

“Pemkab juga ingin meramaikan Purbalingga dengan banyak festival, meski tidak sebanyak Kabupaten Banyuwangi,” kata Heriyanto saat konferensi pers dan peluncuran situs www.festivalcongot.com di Graha Adiguna komplek Pendopo Bupati Purbalingga, Selasa 10 Oktober 2017.

event-wisata-terbaru-purbalingga

Festival Congot mengangkat potensi Congot yang tidak lain ialah tempuran antara Sungai Klawing dan Sungai Serayu. Lokasi yang masuk wilayah Desa Kedungbenda itu juga merupakan salah satu destinasi wisata sedari dulu.

Selain itu, festival ini juga mengangkat kearifan lokal Kedungbenda di Bulan Sura seperti sedekah sungai, ruwat bumi, Suran di Petilasan Lingga Yoni, Suran di Panembahan Dipakusuma hingga Suran Paguyuban Kejawen.

“Untuk itu, dinas kami khususnya bidang kebudayaan merasa penting mengangkat dan mengabarkan secara lebih luas adat-istiadat di Desa Kedungbenda dalam kemasan festival,” jelas Heriyanto.

Festival Congot akan diramaikan dengan penampilan ebeg, daeng atau aplang, ujungan, begalan, lengger, macanan atau macapatan dari kelompok kesenian tradisional yang ada di Kedungbenda dan sekitarnya.

Menurut ketua penyelenggara Festival Congot 2017 Yudhia Patriana, kesenian tradisional yang ada di Desa Kedungbenda akan coba dipentaskan sebagai bagian dari hajat besar Festival Congot 2017.

“Desa Kedungbenda itu unik, tidak hanya karena adat-istiadat yang masih hidup tapi juga seni tradisi yang masih dipertahankan keberadaannya,” tuturnya.

Baca: Tanalum Pamer Potensi Di Festival Desa Wisata

Festival Congot, kata Yudhia, sebenarnya duplikasi penyelenggaraan adat dan kebiasaan warga Desa Kedungbenda yang sudah lama mempertahankan menjadi perayaan yang lebih besar dan dalam satu waktu.

Dalam rangkaian Festival Congot akan ada ruwat bumi, pentas wayang kulit, sedekah klawing dan parade perahu. Dikolaborasikan dengan kegiatan menebar benih ikan, menanam pohon, panggung pinggir kali dan pit-pitan maring Congot dengan ratusan doorprize.

Tak ketinggalan penampilan kuliner khas sebagai pelengkap paket pariwisata seperti sarapan kupat landan dengan lauk serba ikan kali, pesta canthor, dan beragam minuman kopi yang dikemas dalam coffee adventure, serta produk kuliner lainnya.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan