wisata-kampung-warna-bobotsari-purbalingga
Plesir

Punya Sampah Plastik? Kirim Saja ke Kampung Warna Bobotsari

BRALING.COM, PURBALINGGA – Di rumah banyak sampah plastik, tetapi tidak tahu cara efektif untuk menanganinya? Kalau begitu, langsung saja bawa sampah plastik di rumah atau lingkungan tempat tinggal ke Kampung Warna Bobotsari, Purbalingga.

Kenapa? Karena Pengelola Kampung Warna Bobotsari di Desa Bobotsari sudah siap untuk menerima sampah plastik dari masyarakat. Yang mana sampah tersebut akan dijadikan ornamen pada salah satu wahana baru.

Penggagas Kampung Warna, Dona Wahyuni de Fretes berkata, sampah yang dikumpulkan itu akan dirangkai menjadi hiasan seperti pada Lorong Warna dan Pojok Asmoro. Sampah yang dibutuhkan seperti kantong, gelas plastik maupun benda plastik berukuran kecil lainnya.

“Daripada dibuang, ditimbun atau dibakar, lebih baik disumbangkan kepada kami. Tim kreatif nanti yang membuat pernak-pernik hiasan untuk melengkapi wahana yang sedang dibuat. Kami butuh sebanyak-banyaknya, langsung dikirim ke Kampung Warna Bobotsari,” kata Dona, Selasa 10 Oktober 2017.

Sebagian besar wahana yang ada di Kampung Warna memanfaatkan limbah plastik. Selain kampanye ramah lingkungan, daur ulang sampah juga bertujuan untuk mengurangi volume sampah di lingkungan sekitar.

Sejauh ini, objek wisata yang dirilis Agustus 2017 lalu ini masih mengandalkan ornamen berupa lukisan dan cat warna-warni pada dinding, payung yang tergantung di atap rumah serta loket hingga hiasan di jalan.

Baca: Asyiknya Selfie Di Kampung Warna Bobotsari

Sejak menjadi kampung warna, tiga RT yaitu 01,02 dan 03 RW 08 Desa Bobotsari, Kecamatan Bobotsari ini ramai dikunjungi wisatawan. Selama 2 bulan terakhir jumlah pengunjung mencapai 7.000. Untuk akhir pekan dan liburan bisa mencapai 500 pengunjung.

Sebagai bentuk kampanye cinta lingkungan, kata Dona, di setiap sudut kelokan gang juga terdapat papan yang bertuliskan kalimat-kalimat imbauan untuk menjaga kebersihan.

Saat ini, para pemuda yang mengelola kampung wisata menyediakan spot khusus berfoto seperti lorong warna, gambar tiga dimensi, gubuk asmoro dan gardu kampung warna.

“Rata-rata mereka tertarik untuk berfoto. Karena di sini ada lebih dari seratus titik foto. Mau selfie, wefie juga bisa,” tambahnya.

Dona menambahkan, modal awal untuk mewujudkan gagasan Kampung Warna ini berasal dari pinjaman uang kas RW sebesar Rp 10 juta. Uang tersebut harus dikembalikan dalam jangka satu tahun.

“Hutangnya memang belum lunas. Kami harus memutar otak untuk membuka wahana baru sebagai pengembangan memanfaatkan barang yang tidak memakan biaya terlalu banyak untuk membuat pengembangan wahana baru,” kata dia.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan