BRALING.COM, PURBALINGGA – Musim hujan datang terlambat dari waktu yang diperkirakan. Kini, baru sekitar 16 persen wilayah di Indonesia yang memasuki musim penghujan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) menyebutkan kalau terlambatnya musim hujan di wilayah Indonesia disebabkan fenomena El Nino dan Dipole Mode.

Deputi Klimatologi BMKG Adi Ripaldi bilang bahwa meskipun fenomena El Nino yang terjadi pada semester pertama 2019 berlangsung dalam intensitasnya lemah, El Nino menjadi faktor utama.

Baca Juga: Puncak Musim Hujan di Purbalingga Diperkirakan Januari – Februari 2020

Sementara fenomena Dipole Mode di sebelah barat daya Sumatera turut menyebabkan laut di wilayah Indonesia menjadi dingin. Musim Hujan Dipole Mode adalah fenomena penyimpangan suhu permukaan air laut.

“Ada gangguan kedua namanya Dipole Mode di sebelah Barat Daya Sumatera. Itu mirip El Nino cuma terjadinya di sebelah Barat Daya Sumatera di Lautan Hindia,” kata Adi seperti dikutip dari Kompas.com.

Sebagai informasi, fenomena Dipole Mode yang menyebabkan laut dingin akan membuat penguapan air kurang sehingga awan dan hujan juga menjadi kurang. Laut dingin ini menyebabkan baliknya angin musim di Indonesia terlambat.

Seharusnya angin musim di akhir Oktober sudah mulai balik dari angin timuran jadi angin baratan. “Jadi 2 faktor ini, suhu laut kita yang dingin, angin musimnya terlambat sehingga awal musim hujan kita terlambat,” Adi menjelaskan.

Baca Juga: Musim Kemarau 2019, PMI Purbalingga Salurkan 3,6 Juta Liter Air Bersih

Kondisi ini membuat beberapa wilayah di Indonesia mengalami hari tanpa hujan di beberapa wilayah. Malah ada yang tujuh bulan tidak mengalami hujan. Yakni di antaranya di wilayah Lampung, Banten, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur.

“Itu memang sudah kami prediksi sebelumnya, hujan akan terlambat sehingga harus waspada daerah yang kekeringan tadi,” kata dia. Kendati begitu, BMKG yakin kemarau ekstrem kali ini tidak separah yang terjadi pada empat tahun lalu.

BANGKIT WISMO