Jejak Langkah

Mitos Setu Pahing II : Pesan Sang Adipati

SEMENTARA itu, setelah Ki Banyureka dan Bagus Sukra pamit, dipanggilah Rara Sukartiyah untuk dimintai keterangan. Dengan tenang Rara menjelaskan dan mengakui bahwa dirinya masih menjadi istri Bagus Sukra, tetapi sejak mulai menikah bleum pernah melakukan hubungan suami istri.

Setelah mendapat penjelasan dari selir barunya itu, Sultan tersadar bahwa keputusanya mengutus gandek terlalu tergesa-gesa tanpa menyelidiki kebenaran informasi dari Ki Gede Banyureka. Akhirnya diutus lagi prajurit untuk menyusul prajurit pertama guna membatalkan hukuman mati.

Perjalanan Adipati Wirasaba sudah sampai di Desa Bener. Ia lalu berisitirahat di sebuah rumah balai malang sambil makan hidangan nasi dan lauk daging angsa. Balai malang adalah rumah yang pintu depannya di bawah pongpok

Tiba-tiba datanglah seorang prajurit pajang dengan tombak di tangan siap membunuhnya. Tentu saja sikap prajurit Pajang itu menjadi kejutan bagi Adipati Wirasaba. Bersamaan dengan itu, dari kejauhan terdengar suara orang berteriak.

Prajurit itu menoleh kearah datangnya suara itu, terlihat rekannya melambaikan tangan. Tanpa pikir panjang ditusukan tombak itu kepada Adipati Wirasaba, sehingga korban jatuh terkapar berlumuran darah. Peristiwa ini terjadi bertepatan dengan hari Sabtu Pahing.

Setelah sama-sama mengerti bahwa lambaian tangan tadi sebenarnya merupakan isyarat, agar pembunuhan dibatalkan, kedua prajurit yang sama-sama diutus Sultan Pajang itu sangat menyesal.

Sesaat sebelum menemui ajalnya Adipati Wargatuma I konon sempat memberi pesan, agar orang-orang Banyumas sampai turun-temurun jangan berpergian di Sabtu Pahing, jangan makan daging angsa, jangan menempati rumah balai malang dan jangan menaiki kuda berwarna dawuk bang.

Karena menurutnya dapat mendatangkan malapetaka. Adipati juga berpesan agar orang-orang Wirasaba tidak dikawinkan dengan orang Toyareka. Pesan-pesan tersebut dijadikan prasasti pada makam Adipati Wirasaba dan menjadi kepercayaan turun temurun.

Merujuk pada Buku Babad dan Sejarah Purbalingga yang ditulis Tri Atmo, jenazah Adipati Wargautama I dimakamkan di Desa Klampok, Kabupaten Banjarnegara dan dikenal dengan sebutan makam Adipati Wirasaba. Namun, sekarang mitos itu mulai menipis.

SUKENDAR WPS

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.