Jejak Langkah

Bambu Keramat di Desa Majatengah

SAAT Kadipaten Wirasaba masih berdiri, di sebuah padukuhan di timur Desa Majatengah (sekarang wilayah Kecamatan Kemangkon) hidup Kiai Gede Buara dan istrinya. Mereka adalah petani.

Tegalan yang diolah Kiai Gede Buara menjadi tanah subur, sehingga hasil tanamannya dapat melimpah, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di rumah petani itu tinggal pula pemuda

Pemuda itu sebenarnya Raden Jaka Katuhu. Ia menyamar sebagai seorang peminta-minta. Karena merasa iba, maka pemuda itu lalu disuruh tinggal dirumah Kiai Gede Buara di padukuhan itu.

Raden Jaka Katuhu adalah putera sulung Raden Baribin asal Majapahit yang menjadi raja di Pajajaran. Raden Baribin memerintahkan Jaka Katuhu agar mengembara ke timur dan mengabdi kepada orang yang membantunya.

Di wilayah Kadipaten Wirasaba, Raden Jaka Katuhu bekerja di ladang membantu Kiai Gede Buara menanam berbagai macam tanaman yang bisa menghasilkan termasuk karang kitri

Tetapi aneh, tiap pulang kerumah Jaka Katuhu tidak mau berjalan bersama Kiai Gede Buara, ia selalu pulang belakangan. Kiai Gede Buara pun menjadi curiga atas perilaku Jaka Katuhu itu.

Suatu sore, Kiai Gede Buara mencoba menyelidikinya. Di ladang, ia melihat api berkobar. Dan apa yang dilihatnya? Raden Jaka Katuhu tiba-tiba melompat masuk kedalam kobaran api tersebut.

Melihat itu Kiai Gede Buara cemas. Namun tak lama kemudian kecemasan itu hilang dan berubah menjadi keheranan. Sebab, tiba-tiba Raden Jaka Katuhu keluar dari kobaran api dengan penampakan yang lebih bercahaya.

Karena kejadian itu, tegalan yang digarap Kiai Gede Buara dikenal dengan sebutan Cibuek. Luasnya sekitar setengah Hektar, diatasnya tumbuh 25 dapuran pring dari berbagai macam jenis.

Kini, Cibuek menjadi sebuah pedukuhan. Masyarakat sekitar masih menganggap Dukuh Cibuek sebagai tanah keramat. Lokasi tegalan sendiri telah menjadi tanah perdikan atau tanah yang tidak dipungut pajak.

SUKENDAR | Berbagai Sumber

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

One thought on “Bambu Keramat di Desa Majatengah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *