BRALING.COM, REMBANG – Pak Dirman Film ekstrakulikuler sinematografi SMA Rembang terus berekspolasi dengan cerita kehidupan lengger lanang. Setelah film dokumenter “Segelas Teh Pahit”, kini mereka menggarap film pendek bertajuk “Si Lengger Lanang”.

Ceritanya, Giras, cucu Mustarja, menemukan setumpuk baju yang di bungkus kain jarit di dasar gudang daun cincau kering. Yang ternyata seragam lengger milik Mustarja yang disembunyikan anaknya, Sugito.

Sugito malu bapaknya, masih saja menari lengger padahal sudah usia lanjut. Film itu digarap 14-15 Februari 2014 di Desa Panusupan, Kecamatan Rembang.

“Cerita film pendek kami berdasar pada film dokumenter yang kami produksi sebelumnya. Sudah seperti tradisi bagi ekskul kami, membuat cerita fiksi diilhami dari kisah dokumenternya,” ujar penulis skenario Lilit Widiyanti.

Menurut sutradara Ela Nur Wijayanti, semua pemain diambil dari warga Desa Panusupan. Hal ini, katanya, karena kedekatan yang sudah dibangun dengan warga desa sebelumnya.

“Meski begitu, ternyata tidak mudah mengatur pemain orang tua, apalagi anak-anak. Untunglah, mereka bersemangat dan dilakukan dengan rasa senang,” tutur pelajar yang duduk di kelas XI ini.

Guru pembina ekskul sinema Puji Rahayuning Pratiwi mengatakan, proses produksi film yang bakal ikut Festival Film Purbalingga (FFP) 2014 ini bagi siswa menemukan tantangan internal dan eksternal.

“Internal, anak-anak harus pandai-pandai mengatur waktu sekolah, karena harus dikerjakan berbulan-bulan. Sementara eksternal, ya harus berhubungan dengan pihak-pihak luar dimana film itu akan diproduksi,” ujar dia.

BANGKIT WISMO