BRALING.COM, PURBALINGGA – Komunitas Kuliner Kreatif Purbalingga sedang mendorong manco dan kupat landa sebagai ikon kuliner Kota Perwira. Dinperindagkop Purbalingga pun mendukung upaya ini.

“Kami saat ini terus berburu dan meneliti berbagai makanan asli buatan Purbalingga untuk dipopulerkan sebagai makanan asli buatan Purbalingga” kata Sumarno, Ketua Komunitas Kuliner Kreatif Purbalingga.

Dijelaskan, saat ini masih ada sekitar 5-7 orang pengrajin manco yang distribusinya sudah sampai luar Purbalingga. Namun kebanyakan produk asal Purbalingga dijual secara curah atau bal-balan dan tanpa brand.

“Setelah dikirim ke luar Purbalingga baru dikemas ulang dan diberi brand oleh pengemasnya tanpa mencantumkan nama Purbalingga sebagai asal produk tersebut” ujar Marno.

Sementara kupat landa banyak ada di wilayah Kecamatan Kemangkon. Kupat landa sebenarnya hampir sama dengan kupat biasa, hanya cara merebusnya yang sedikit beda.

Merebus kupat landa tidak hanya dengan air saja tetapi ditambah abu atau bekas bakaran daun atau serabut kelapa sehingga kupat landa ini berwarna sedikit kemerahan dan rasanya agak sepet sedikit.

Adanya warna merah inilah oleh masyarakat, makanan yang lekat dengan Lebaran ini diidentikan dengan warna kulit orang Belanda yang saat itu menjajah sehingga dinamakan kupat landa.

Kini, Komunitas Kuliner Purbalingga sedang menyusun usulan kepada Pemkab Purbalingga untuk lebih mempopulerkan dan melegitimasi produk asli Purbalingga seperti manco dan kupat landa.

Kasi Pembinaan dan Pengembangan Dinperindagkop Purbalingga, Adi Purwanto mengatakan, usulan komunitas itu perlu banyak ujian dan juga masukan. Namun, secara umum, Dinperindagkop mendukung usulan itu.

BANGKIT WISMO