BRALING.COM, PURBALINGGA – Kualitas dan kuantitas produksi film pelajar di Banyumas Raya mulai mengalami penurunan. Sejumlah faktor menjadi pemicu terjadinya persoalan ini.

Yanti Indriyani, siswi MTs Ma’arif Mandiraja Banjarnegara berkata, pada dasarnya sekolah siap menyediakan alat produksi film maupun dana. “Tapi kami belum punya pembimbing yang mumpuni dalam produksi film,” katanya.

Yanti mengatakan itu saat mengikuti program Temu Komunitas Film Pelajar se-Banyumas Raya dalam rangka Festival Film Purbalingga (FFP) 2014, Kamis (29/5) di Aula Hotel Kencana Purbalingga. Tidak kurang dari 60 pelajar SMP dan SMA mengikuti program itu.

Pertemuan komunitas film pelajar yang direncanakan digelar tahunan itu dikawal oleh Presiden Sangkanparan Cilacap Insan Indah Pribadi dan Direktur Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga Bowo Leksono.

Siswi SMA Sokaraja Banyumas Ani Kurnia, menganggap pihak sekolah masih setengah-setengah dalam memfasilitasi produksi film.“Sepertinya kami harus berprestasi dulu agar diakui sekolah, padahal kami sudah bersaha bagaimana menghidupkan film di sekolah,” ujarnya.

Menurut Insan, ada persoalan besar pada komunitas film pelajar yang hampir sama di setiap sekolah, antara lain persoalan alat, dana dan fasilitasi, hanya beberapa saja yang berbeda sesuai karakteristik sekolah itu.

“Kuncinya sebenarnya ada pada komunikasi siswa dengan pihak sekolah dan ketekunan siswa itu sendiri dalam berproses,” kata Insan.

Setelah program temu komunitas, pada jam program berikutnya 14.00 bedah buku “Film sebagai Media Belajar” karya pegiat budaya Banyumas Teguh Trianton dengan pembahas pembuat film pelajar Misyatun dan moderator Putri Antika dari Kelas Menulis Purbalingga.

BANGKIT WISMO

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •