Pilihan

Grumbul Sambirata; Surga Gerabah dan Fotografer

BRALING.COM, REMBANG – Seorang nenek renta dengan kerik dari bambu di tangannya tampak sangat  menikmati profesinya. Tangan tuanya dengan cekatan mengerik ciri yang terbuat dari tanah liat. Disampingnya terdapat beberapa tumpuk ciri yang sudah setengah jadi.

Pemadangan tersebut sudah biasa menghiasai Grumbul Sambirata. Grumbul di Desa Wanogara Kulon ini merupakan satu-satuya daerah penghasil gerabah di Kecamatan Rembang.

Begitu memasuki gapura selamat datang di Sambirata, kita akan melihat gerabah aneka bantuk tertata rapi di depan rumah-rumah warga. Keahlian ini merupakan warisan turun temurun dari nenek moyang mereka.

“Sejarah pasti dari keahlian ini tidak ada yang tahu, dari nenek moyang kami yang jelas sebelum penjajahan sudah ada,” ungkap Mawiarja, 80 tahun, pengrajin yang telah menekuni profesi ini sejak umur belasan tahun.

Sebagian besar penduduk Sambirata berprofesi sebagai pembuat gerabah, dengan hasil yang tak seberapa mereka tetap menekuni profesinya ini. Dalam sehari rata-rata mereka bisa memproduksi 50-100 buah gerabah aneka bentuk.

“Yah itung-itung sebagai kegiatan, daripada nganggur dirumah. Walapun hasilnya tidak seberapa tetapi bisa buat tambahan keluarga dan yang jelas melestarikan budaya,” ungkap Ibu Madroji, 50 tahun, perajin yang juga istri kepala dusun setempat.

Pembuatan gerabah di Sambirata masih sangat tradisional dan di dominasi oleh orang tua yang usianya sudah lanjut. Sehari-harinya mereka hanya menggunakan alat pemutar, kerik dari bambu, dan dalim.

Alat yang pernah di beri oleh pemerintah dirasa tidak cocok dengan bahan baku yang ada disana. Sehingga hasilnyapun akan berbeda.

“Alat yang modern si ada, tetapi tidak sesuai dengan bahan baku yang ada disini. Hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, biasanya kalau sudah di bakar suka pecah jadi warga memlilih untuk membuat dengan cara tradisional,” jelas Nurois, perajin lainnya.

Untuk membuat gerabah, setiap hari para pengrajin perempuan mengambil tanah di sawah warga yang jaraknya sekitar 1,5 KM, sedangkan suami mereka mencari pasir dan kayu untuk pembakaran.

Jika sedang musim kemarau, mereka dapat memproduksi gerabah siap jual selama satu minggu tetapi jika cuaca tidak mendukung waktu pembuatan bisa lebih dari setengah bulan.

Grumbul Sambirata terletak di tengah-tengah persawahan yang kanan kirinya dikelilingi sawah dan bukit-bukit yang menghijau dengan semilir angin yang menyejukan.

Selain bisa melihat proses pembuatan gerabah yang masih tradisional, disana dapat pula menikmati pemandangan yang memanjakan mata.

INA FARIDA

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.