BRALING.COM, PURBALINGGA – Mendengar kabar kematian Akhmad dan Muhammad, Ki Sutaraga dan para prajurit Majapahit pun terus bersorak-sorai. Sebaliknya mendengar kabar tersebut, Bangas dan Bangis merasa sangat sedih. Bahkan mereka berdua menjadi korban cemoohan prajurit Majapahit.

Makin keras suara sorak sorai prajurit-prajurit Majapahit terdengar, semakin panaslah dada Bangas dan Bangis dibakar oleh kemarahan. Tanpa perhitungan untung ruginya, ditantanglah Ki Sutaraga perang tanding. Tetapi yang ditantang sama sekali tidak menanggapi.

Karenanya hati Bangas dan Bangis menjadi semakin lebih penasaran. Dan dengan dada penuh kemarahan, tiba-tiba kedua orang itu menyerangnya. Namun Senopati Majapahit itu tak ambil pusing. Malah Ki Sutaraga tetap berdiri bertolak pinggang sambil berkata, bahwa ulah Bangas dan Bangis layaknya seperti binatang saja.

Karena kesaktian Senopati Majapahit ini, ucapannya benar-benar menjadi kenyataan. Bangas dan Bangis secara tiba-tiba berubah wujud menjadi Warak (Badak). Karena inilah, tempat dimana peristiwa itu hingga sekarang disebut Desa Siwarak, yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Karangreja.

Lenyapnya Bangas dan Bangis ini adalah merupakan suatu korban perjuangan mengembangkan agama Islam. Memang logis, setiap perjuangan harus ada pengorbanan. Dan pengorbanan biasanya tak sia-sia. Meskipun Bangas dan Bangis lenyap, tetapi agama Islam yang diperjuangkan telah berkembang dengan pesatnya.

Bahkan umat Islam yang diperjuangkan telah berkembang dengan pesatnya. Bahkan Islam didaerah Purbalingga hingga sekarang dapat dikategorikan sebagai golongan mayoritas. Walaupun demikian, umat Islam tetap bersikap toleran terhadap penganut-penganut agama lain yang masih termasuk golongan minoritas. [habis]

BANGKIT WISMO