BRALING.COM, PURBALINGGA – Laju arus globalisasi yang kian kencang sangat berdampak pada eksistensi kesenian tradisional. Pada satu sisi globalisasi itu mendorong kreatifitas para seniman tradisi, di lain sisi hal itu membuat kesenian tradisional sangat berorientasi pada pasar.

“Karena banyaknya permintaan pasar, akhirnya keluarlah produk barang seni yang sudah tidak didasarkan ide dan selera seniman tradisional. Mereka semata-mata hanya memenuhi kebutuhan pemesannya dalam bentuk massal dan mencari keuntungan materi. Anehnya, barang-barang tersebut dijual dimana-mana dan laku dengan cepat,” papar Kabid Kebudayaan Dinbudparpora Purbalingga, Sri Kuncoro.

Kuncoro memaparkan hal itu saat dialog public “Ketahanan Seni dan Globalisasi : Momentum Mengembangkan Kesenian Lokal di pentas Dunia” di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Rabu (8/10).  Ia menjadi pembicara bersama Ketua Dewan Kesenian Purbalingga Haryono Sukiran dalam diskusi yang digelar LSM PKBM Harapan Bawean, Gresik Jawa dan Dirjen Kesatuan Bangsa dan Politik Kemendagri

Menurut Sri Kuncoro, globalisasi memacu seniman untuk memunculkan kreativitasnya sesuai dengan kepentingan pasar. Mereka membuat barang-arang seni yang dijual untuk melayanani masyarakat dalam menggelar upacara sacral dan kegiatan lain yang berhubungan dengan aktivitas ketradisionalan.

Maryoto, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sinar Pesona Desa Karangbanjar dalam diskusi mengatakan, , bahwa seni tradisional kini cenderung kurang diminati oleh kalangan muda. Misalnya, seni kothekan lesung yang hampir tidak ada generasi penerusnya. Padahal seni ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan yang berkunjung ke Karangbanjar.

“Kami meminta pemerintah untuk menggelorakan kembali adat, seni dan budaya yang ada di desa-desa. Hal ini karena bisa dijadikan sebagai daya tarik kunjungan wisata yang pada akhirnya akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Maryoto.

Guru kesenian di SD, Sri Pujiastuti mengusulkan, untuk terus mempertahankan seni tradisional, perlu ditanamkan sejak dari anak-anak. Para pelajar di tingkat sekolah dasar harus diajari tari dan bermain gamelan. “Melalui cara ini, seni tradisi akan terus terjaga dengan baik meski ditengah era globalisasi,” ujar Sri Pujiastuti.

BANGKIT WISMO