BRALING.COM, PURBALINGGA – Terus menguatnya minat kaum muda untuk bekerja di pabrik bulu mata dan rambut palsu membuat pelaku UMKM di Kota Braling pusing. Ini artinya, daftar masalah UMKM di Purbalingga kian berderet panjang. Sebelumnya, mereka sudah kesulitan pemasaran dan permodalan.

Sejumlah pelaku UMKM mengaku harus berebut dengan pabrik untuk mencari tenaga kerja. Angkatan kerja baru lebih memilih bekerja di pabrik karena menilai di sana gaji yang diterima lebih menjanjikan.

“Kami merasa kewalahan dan sangat capek kalau menerima order dalam jumlah banyak karena tenaga kerja kami terbatas,” Ibu Unang Zika, salah seorang pengusaha snack.

“Kami mempunyai usaha bakso keliling sampai 8 gerobogan dan membutuhkan waktu 3 jam untuk memproses bakso, tapi dengan alat-alat yang dipresetasikan tadi waktu pembuatan hanya sekitar 20 menit saja dan tidak membutuhkan tenaga kerja banyak” kata Purnomo pengusaha bakso asal Desa Binangun, Kecamatan Mrebet.

Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Purbalingga pun mengakui adanya persoalan ini. Karena itulah Dinperindagkop mengadakan acara Pengenalan Alat Bantu/Mekanisasi Proses Produksi Olahan Makanan Sederhana. Acara ini digelar 1-3 Nov 2014 di Gedung Balai Benih Ikan Kutasari Purbalingga.

Acara diiikuti oleh 42 pelaku UMKM Purbalingga yang saat ini mengalami kendala tenaga kerja tetapi mempunyai omset dan potensi omset yang besar. Kegiatan ini bekerja sama dengan Mitar UKM Konsulting dan pabrik alat-alat industri olahan Ikube.

Pada kegiatan ini dipresentasikan beberapa jenis alat bantu produksi atau mesin pengolah makanan sederhana, yang mungkin dibutuhkan dan dapat diadopsi oleh para pelaku UMKM dan akan dilanjutkan dengan tinjauan lapangan pada hari berikutnya.

“Salah satu kendala dan keluhan yang sering kami dengar dari para pelaku UMKM adalah masih kurangnya akses para pelaku UMKM terhadap alat bantu produksi dan kemasan” kata Adi Purwanto, Kasi Pembinaan dan Pengembangan UMKM Dinperindagkop Purbalingga.

BANGKIT WISMO