Pawarta

Surat untuk Bupati dari Nurlaila Sahara Worabay [Juara II]

Purbalingga, 14 November 2014

Yht. Bupati Purbalinga

di Purbalingga

Assalamu’alaikum wr.wb

Hay Bapak, apa kabarnya ? Semoga bapak baik-baik saja. Perkenalkan nama saya Nurlaila Sahara Worabay. Saya berasal dari Sorong, Papua Barat. Saya mengikuti salah satu program pembangunan Papua dan Papua Barat yaitu AFIRMASI, lalu saya di tempatkan di SMA N 1 Bobotsari Purbalingga.

Awal saya menginjakan kaki di sini, ada sedikit rasa takut yang berada di hati saya, tapi melihat keramahan dan keterbukaan warga purbalingga untuk menerima saya disini. Membuat rasa takut itu pun hilang. Saya memang harus banyak menyesuaikan diri mulai dari budaya dan bahasa di sini. Kota Purbalingga adalah salah satu kota yang berada di Jawa Tengah, kotanya tertata rapi, sektor ekonominya pun sudah sangat maju, dan pendidikannya pun tak kalah dari pendidikan-pendidikan di kota lain.

Saya sebagai orang baru mungkin tidak tahu banyak hal tentang kota ini seperti Bapak atau penduduk lainnya yang telah lama tinggal di sini. Tapi saya memiliki beberapa harapan ke depan agar kota Purbalingga dapat lebih maju.

Saya berharap Bapak dapat lebih memperhatikan sektor pendidikan karena maju atau tidaknya suatu kota, daerah bahkan negara tergantung sistem pendidikannya. Agaknya sektor ini kurang di perhartikan terbukti dengan masih banyaknya siswa yang belum memperoleh pendidikan yang layak. Banyak dari mereka yang menghabiskan waktu hanya dengan berdiri di emper-emper toko atau mengamen bahkan menjadi pengemis di perempatan lampu merah, sebagai contoh coba mari kita lihat bersama Bapak masih banyak kejadian seperti ini di perempatan Sironge, Padamara, dan masih banyak lagi. Sungguh tragis, padahal teman-teman seusia mereka tengah menuntut ilmu di bangku sekolah, tapi mereka terpuruk dalam gelapnya kebodohan. Selain itu penanaman rasa nasionalisme dan patriotisme perlu turut di perhatikan oleh Bapak. Terbukti dengan masih banyaknya siswa yang tak mengingat hari-hari besar nasional, mereka juga enggan belajar serius dan hanya memikirkan kesenangan sesaat. Masalah lain yang perlu juga diperhatikan adalah mahalnya pendidikan. Hal ini menjadi salah satu batu sandungan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi, ada beberapa siswa pandai yang tak dapat melajutkan sekolah seperti Mba Vivi yang tak dapat melanjutkan sekolah dan berujung menjadi pegawai PT.  Sangat tragis bukan Bapak? ketika yang memiliki kemampuan tidak di berikan kesempatan untuk melanjutkan sekolah. Serta jangan lupa pula kita kuatkan kembali pendidikan agama di lingkungan pelajar, karena masih banyak pelajar yang terjerumus dalam gelapnya dunia malam seperti Mas Alfian salah satu siswa SMA Negeri 2 Purbalingga yang akhirnya putus sekolah.

Kemudian sektor kesehatan juga masih perlu kita benahi oleh Bapak. Pembuangan sampah tidak pada tempatnya masih sering terjadi, mungkin ini memang hal kecil tapi dampaknya bisa sangat besar untuk kesehatan dan psikologi warganya. Mungkin Bapak bertanya-tanya apa benar ini masih sering terjadi? Coba bapak berpergi di daerah dekat pasar Bobotsari, pasar Purbalingga. Layanan jamkesmas juga perlu kita soroti, walaupun ini adalah layanan kesehatan yang sangat baik dan masih terus berjalan, tapi sayangnya pelayanan dari pihak-pihak rumah sakit atau puskesmas kurang memadai terbukti dengan masih banyaknya antrian yang memakan waktu berjam-jam seperti di RSUD, hal ini menyebababkan seseorang yang sakit akan semakin sakit bahkan dapat berakibat kematian, jika tidak segera di tangani.

Lalu Bapak juga perlu memperhatikan fasilitas-fasilitas umum yang ada di Purbalingga. Akses jalan adalah salah satu masalah yang masih perlu kita perhatikan. Di beberapa titik jalan seperti di Bukateja, akses jalan masih terhambat oleh jalan yang rusak. Lamanya pembangunan jalan juga menjadi kendala tersendiri. Padahal jalan tersebut adalah akses satu-satunya keluar masuk kendaraan. Hal ini menyebabkan beberapa titik tersebut menjadi rawan kecelakaan, selain itu  juga dapat menghambat laju ekonomi di daerah tersebut. Masalah lain yang tak kalah penting adalah masih banyak bangunan yang kurang di rawat, bukankah membangun suatu bangunan membutuhkan ratusan bahkan jutaan rupiah, lalu mengapa Bapak beserta staaf  kurang memperhatikan bangunan yang telah di bangun tersebut? Jika sesuatu yang kita bangun tidak kita rawat dengan baik buat apa di bangun, bukankah hanya membuang uang saja Pak? Sebagai contoh hutan kota. Pembangunanya  memang baru saja selesai , tapi sudah mulai banyak coret-coretan di dinding bangunan, sampah di mana-mana seakan tak di rawat. Menurut beberapa orang yang pernah ke sana mereka jadi tidak ingin ke sana kembali. Padahal hutan kota bisa menjadi salah satu aset parawisata dengan mengembangkan tanaman atau pepohonan asli Purbalingga.

Dan sektor sosial yang mungkin penting sekali untuk kita benahi kembali. Upacara-upacara memperingati hari-hari besar nasional seakan di lupakan oleh masyarakat. Upacara hanya dilakukan oleh mereka yang berpakaian seragam, lalu bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki pakaian seragam , apakah mereka tidak berhak ikut dalam upacara. Lalu bagaimana cara pemerintah menumbuhkan rasa nasionalisme dan patrotisme di hati mereka.

Saya berharap kota Purbalingga kedepan dapat memiliki akses jalan yang baik, kota yang terkenal dengan pendidikan dan rasa nasionalismenya, pelayanan kesehatan yang baik, kembali mengadakan upacara-upacara nasional di segala lapisan warga, dan sektor ekonomi yang lebih maju serta kota yang religius.

Semoga surat ini dapat menjadi masukan untuk Bapak beserta staaf kedepan.Demikian yang dapat saya sampaikan. jika ada salah kata dalam penulisan, Saya mohon maaf. Atas perhatiannya di ucapkan terima kasih.

Wasalamu’alaikum wr.wb

 

Hormat saya,

 

Nurlaila Sahara.W

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.