BRALING.COM, PURBALINGGA – Indonesian Jasper & Klawing Lovers menyebut sekalipun sedang terjadi booming Batu Akik Klawing begitu terasa di Purbalingga, namun keuntungan dari gempita itu belum bisa terasa langsung oleh masyarakat Purbalingga.

Ketua Indonesian Jasper & Klawing Lovers Norman Indrajaya berkata, masih banyak bebatuan yang berasal dari Kali Klawing yang diangkut dan diolah ke luar daerah bahkan hingga mancanegara. Alhasil, batuan mineral itu tidak lagi dikenal berasal dari Klawing Purbalingga.

“Kita punya fakta banyak batu Klawing yang dijual ke buyer di Thailand dan dijual lagi ke Eropa , Perancis, dan lainnya. Tapi batu kita diakui bukan sebagai batu Indonesia. Padahal dari ciri-cirinya itu batu Klawing,” kata Norman Indrajaya.

“Batu Klawing motif Telor Kodok, kalau di internasional namanya Ocean Jasper. Motif Sisik Naga di Spanyol namanya imperial jasper. Tapi kita nggak boleh pakai nama itu, padahal motifnya sama. Jadi kita harus punya penamaan sendiri dan akan kita perkenalkan kepada dunia internasional,” tambahnya.

Karena itu, Norman, meminta Pemkab Purbalingga menerbitkan peraturan daerah untuk melindungi sekaligus mengoptimalkan potensi batu Klawing Purbalingga. Sehingga akan ada pengakuan dari dunia sekaligus tetap terjaganya kondisi sumber bebatuan di sungai Klawing juga harus diselamatkan.

Komunitas Indonesian Jasper & Klawing Lovers baru dibentuk 25 November. Mereka berkomitmen untuk mengenalkan batu Klawing baik di kancah internasional maupun nasional. Dalam waktu dekat komunitas ini juga diundang oleh Jasper International di Bali Desember 2015. [Baca : Harga Batu Klawing Masih Terlalu Murah]

“Pastinya kita akan memperkenalkan bahwa inilah batu blood stone dari Indonesia. Selama ini mereka juga nggak tahu. Tahunya blood stone nggak ada di Indonesia. Sementara di Perancis, batu ini sudah menjadi batu bangsawan (Le Sang Du Crist),” katanya.

BANGKIT WISMO

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •