Pilihan Plesir

Eksplorasi Batu pun Mengancam Keindahan Curug Aul

BRALING.COM, PURBALINGGA – Batu Pancawarna sedang naik pamor, selaras dengan berkibarnya harga Batu Klawing. Bersamaan dengan itu, keindahan alam di Curug Aul di Desa Tanalum, Kecamatan Rembang justru terancam.

Curug Aul sudah diakui sebagai lokasi wisata minat khusus yang menawarkan rute canyoning yang menantang dan menghibur. Kondisi alam dan kontur bebatuan yang unik menjadi nilai tambah Curug Aul.

“Rute semacam ini justru unik, tidak terlalu melelahkan dan banyak memakan tenaga. Kelokan air diantara tebing dan rapatnya hutan pinus menjadi hiburan tersendiri,” kata Pegiat Komunitas Canyoning ID, Isro Adi, Minggu 18 Januari 2015.

Jalur canyoning sepanjang 500 meter membutuhkan alat tambatan (anchor) untuk mengaitkan tali. Pasalnya, saat melakukan penyusuran dan teknikrapeling membutuhkan peralatan penunjang tersebut.

Isro yang asli Purbalingga ini mengaku cukup penasaran untuk menuruni Curug Nagasari setinggi 75 meter dan Curug Aul yang setinggi 50 meter. Kedua air terjun ini memiliki tebing tegak lurus dengan debit air yang stabil. “Meskipun hujan turun, debit air tetap stabil. Jadi kemungkinan terjadinya banjir sangat kecil,” kata dia.

Pria yang menjadi konsultan sejumlah komunitas canyoneering ini memaparkan, kerusakan batuan karena aktivitas penambangan tradisional “batu Klawing” di sepanjang jalur tersebut dalam tingkat mengkhawatirkan.

Motif batuan pancawarna yang unik mengundang tangan-tangan jahil untuk mencungkil tebing dengan menggunakan linggis, parang dan lain-lain. Di Curug Aul ada empat titik yang dicungkil. Pencuri juga nekat mengambil batu di jalur canyoning yang terbilang sulit dijangkau.

Isro prihatin dengan fenomena banyaknya alam yang menjadi rusak karena pengelolaan yang tidak tepat. Ketika mulai ramai dikunjungi, warga langsung membuat loket ataupun lahan parkir pada sebuah obyek wisata.

Sudah menjadi tugas pemerintah untuk terus berinovasi untuk mengelola kekayaan alam yang tetap berbasis lingkungan. “Jika ingin dikembangkan untuk wisata minat khusus, pengrusakan batuan harus dihentikan. Sebab, salah satu tujuan canyoning adalah konservasi,” ucapnya.

Ketua Pokdarwis Desa Tanalum, Taat Prianto mengaku telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa dan Perhutani sebagai pemilik lahan. Menurut dia, pelaku penambangan liar bukanlah warga setempat. “Pemdes sudah menerbitkan larangan pengambilan batu untuk menghindari kerusakan yang lebih parah,” kata dia.

BANGKIT WISMO

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

2 thoughts on “Eksplorasi Batu pun Mengancam Keindahan Curug Aul”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *