BRALING.COM, PURBALINGGA – Wisatawan yang datang ke Desa Panusupan, Kecamatan Rembang tak hanya akan menikmati keindahan alam pedesaan. Tetapi juga akan bisa menyaksikan seni pertunjukan rakyat Dayakan.

“Tarian rakyat Dayakan merupakan turun temurun dari nenek moyang, hanya saja sudah lama tidak ditampilkan. Disebut Dayak, karena konon masyarakat disini dulu berasal dari alas,” tutur Suparno, Koordinator tari Dayakan.

Sepintas, Dayakan mirip seni topeng ireng dari desa-desa di lereng Gunung Merapi – Merbabu. Bedanya, Dayakan dibawakan oleh anak-anak dan asesoris yang dipakaipun cenderung alami.

Wajah anak-anak yang akan menari dayakan, digambari menggunakan arang. Tampilan wajahnyapun seperti mirip orang alas. Mereka memakai dedaunan dan janur kuning layaknya pakaian. Rumput yang dipakaipun tidak sembarangan yakni rumput Kapulata. Sedang tetabuan berupa kentongan, gong, dan ember.

Pertunjukan Dayakan melengkapi “senjata andalan” Desa Panusupan dalam menjaring wisatawan. Panusupan juga sudah mempersiapkan suguhan khusus bagi wisatawan seperti seni kotekan lesung, tari kuda lumping, dan tektek.

Selain itu, pengunjung juga bisa menikmati makanan tradisional seperti lemet, cimplung, ondol ketela, sedang jamuan makan besar berupa nasi jagung, buntil daun talas, keripik daun Keji dan kluban daun ketela.

Kepala Desa Panusupan Imam Yulianto berkata Desa Panusupan melandaskan pada kekuatan wisata religi, seni budaya yang dipadu dengan keindahan alam dalam mengembangkan desa wisata.

Panusupan sudah terkenal karena Syeh Jambu Karang atau Makam Ardi Lawet. “Keindahan alam yang ada di Panusupan selain hamparan ngarai yang indah dan sejuk dipandang juga terdapat air terjun wana tirta,” kata Imam Yulianto.

Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ardi Mandala Giri juga siap mendampingi wisatawan keliling desa. Usaha Panusupan sendiri sudah mendapatkan dukungan dari Pemkab PUrbalingga.

BANGKIT WISMO