BRALING.COM, PURBALINGGA – Ismi Vera dengan ketiga teman lain di kelas penulisan skenario berusaha menyelesaikan tulisan hingga menjelang subuh. Hal ini karena, pagi harinya, skenario mereka akan diproduksi bersama yang dibagi dalam beberapa kelompok produksi.

“Kami harus menyelesaikan skenario film pendek sampai sebelum teman-teman memproduksinya. Saya baru paham, keberadaan skenario film sangat penting, karena bila tidak ada skenario, tidak akan ada karya film,” kata Ismi.

Saat itu, Ismi dengan sekitar 25 teman pengurus OSIS sedang mengikuti workshop produksi film pendek yang digelar di sekolah mereka SMA Kemangkon Purbalingga. Workshop digelar di lingkungan sekolah selama dua hari, Sabtu-Minggu, 14-15 Maret 2015.

Selain kelas penulisan skenario, workshop yang difasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga juga dibuka kelas managemen produsi, tata kamera, dan penyuntingan gambar atau editing.

Di kelas penulisan skenario, seringkali yang terjadi minim peminat dibandingkan dengan kelas-kelas lainnya. Namun sebenarnya, penulisan skenario merupakan pintu masuk sebuah karya film diproduksi.

Kepala SMA Kemangkon Drs Joko Widodo, MPd mengatakan, sudah sejak lama sekolahnya ingin ada kegiatan perfilman seperti halnya sekolah-sekolah lain di wilayah Purbalingga.

“Baru kali ini kesampaian mengundang CLC untuk membantu. Dengan film terbukti, tidak hanya mengangkat nama sekolah, tapi juga mengangkat nama Purbalingga,” ujar kepala sekolah yang baru beberapa bulan menjabat ini.

Joko Widodo termasuk orang yang rajin mengikuti perkembangan film di Purbalingga bahkan sebelum CLC berdiri. Saat masih mengajar di SMA Bobotsari, ia getol mendukung keberadaan perfilman di sekolah dan menginginkan ada ekstrakulikuler sinematografi di sekolah yang baru ia pimpin.

Menurut Manager CLC, Nanki Nirmanto, dukungan sekolah menjadi faktor penting keberadaan sebuah komunitas film di sekolah. “Namun terpenting tetap semangat dan kerja keras anak-anak dalam berkarya,” tegasnya.

BANGKIT WISMO