Pawarta

Ini Hukuman Berbuat Asusila dengan Pacar di Kebun Tebu

BRALING.COM, PURBALINGGA – Warga Kecamatan Pengadegan, Khaerul Miftakhudin, 18 tahun, masuk penjara karena melakukan tindak asusila terhadap pacarnya, sebut saja Kuncup, 16 tahun, warga Kecamatan Kejobong di Kebun Tebu di Desa Penolih, Kecamatan Kaligondang.

Ibu korban tidak terima dengan perlakukan itu lalu melaporkan Khaerul ke Polres Purbalingga. Dalam persidangan Selasa, 7 Juli 2015, Khaerul dijatuhi hukum lima tahun penjara dan denda R 60 juta subsider enam bulan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Purbalingga.

Vonis itu sama seperti tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Atika Santoso. Majelis hakim yang terdiri atas Nenden Rika P, Agustinus Yudi S dan Bagus Trenggono itu berpendapat bahwa terdakwa terbukti melanggar Pasal 81 ayat 2 Jo Pasal 76 huruf E UU No 35 tahun 2014 tentang perubahan UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Terdakwa menyetubuhi pacarnya sekali pada 21 Januari lalu di kebun tebu, sekitar pukul 22.00. Sebelum melakukan tindak asusila tersebut, terdakwa mengajak korban untuk pergi jalan-jalan. Keduanya lalu pergi ke Stadion Goentoer Darjono sekitar pukul 21.00 menggunakan sepeda motor.

Setelah memutari stadion, mereka lalu kembali. Di jalan, terdakwa mengajak korban untuk melakukan hubungan layaknya suami istri. “Nek ko sayang karo aku, ML yuh,” kata Khaerul. Setelah melakukan tindakan asusila itu, terdakwa kemudian mengantar pulang korban.

Dua hari kemudian, ibu korban, Rutimah curiga terhadap perilaku anak perempuannya yang selalu murung. Setelah ditanya, akhirnya korban menceritakan apa yang telah terjadi dengan pacarnya itu. Karena tidak terima, akhirnya ibu korban melaporkan terdakwa ke Polres Purbalingga.

Kuasa hukum terdakwa, Pahotma Butar Butar mengatakan, pihaknya akan melakukan banding atas putusan majelis hakim terhadap kliennya. Ia menilai, putusan itu terlalu berat untuk seorang remaja. Selain itu jeratan pasal pada UU No 35 Tahun 2014 untuk terdakwa dinilai tidak tepat, sebab perbuatan yang dilakukan terdakwa dilakukan sebelum UU tersebut diterapkan.

“Seharusnya jaksa menggunakan UU No 23 tahun 2002 untuk menjerat terdakwa. Kami akan lakukan banding,” katanya.

BANGKIT WISMO

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *