Gaya Pilihan

Panggung Sajak 2015; Orang Purbalingga Kurang Piknik

BRALING.COM, PURBALINGGA –¬†Satu persatu puisi dan happening art membombardir malam minggu yang diselimuti gerimis. Intonasi, diksi serta gesture Sang Pembaca Puisi pun seolah menegaskan bahwa mereka ogah kalah dari serangan air langit.

Sabtu, 12 Desember 2015 malam itu puisi, penulis serta pembacanya berkumpul dan melakukan apresiasi di Panggung Sajak “Kata Tak Lagi Terkurung. Program tahunan Kelas Menulis Purbalingga ini digelar di Panggung Outdoor GOR Mahesa Jenar.

Mereka adalah Angkatan V Kelas Menulis Purbalingga, Gustav Triono (guru SMP 1 Mrebet dan penyiar), Agus Sukoco (Jamaah Maiyah Purbalingga), Ryan Rachman (penyair serta wartawan), Bu Murni (guru SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga) dan siswanya, M Iskandar serta Teater Si Anak Fisip Unsoed Purwokerto.

Kebanyakan dari penampil itu membaca puisi yang mereka bikin sendiri. Puisi itu pun mengangkat berbagai tema, mulai dari kebakaran hutan, korupsi, pendidikan sampai dengan jerat industri bulu mata dan rambut palsu di Purbalingga.

“Berada di acara ini membuat saya merasa tidak ada di Indonesia,” kata Agus Sukoco sesaat sebelum membaca puisi bertajuk Persetubuhan Kata. Agus berharap ajang semacam ini bisa diagendakan rutin.

Bagi Gustav, ruang apresiasi seni sastra harus terus digiatkan karena sangat baik bagi perkembangan seni di Purbalingga. “Setelah membaca puisi, masuk angin saya menjadi hilang,” kata Gustav yang membacakan tiga puisi.

Menurut pengampu Kelas Puisi di Kelas Menulis Purbalingga ini, ajang apresiasi sastra panggung yang sangat langka di Kota Perwira. Sayangnya, belum mendapat respon dari kebanyakan masyarakat. “Mungkin orang Purbalingga memang kurang piknik. Panggung Sajak kan bisa untuk refreshing,” kata Gustav.

Murni juga memiliki penilaian yang sama. Guru yang sudah akrab dengan dunia seni sejak zaman kuliah ini mengaku siap bekerjasama dengan pegiat sastra bila ingin berkolaborasi dengan siswa SMA Muhammadiyah 1 Purbalingga.

Selain mengapresiasi Panggung Sajak, M Iskandar yang berasal dari Purwokerto menilai seharusnya sastra di Purbalingga bisa berkembang pesat. “Banyak hal yang menarik di sekitar masyarakat Purbalingga, salah satunya dunia kerja di pabrik,” kata Iskandar.

Manager Kelas Menulis Purbalingga, Putri Antika berkata, Panggung Sajak digelar dengan tujuan untuk menjadi ruang aktualisasi anggota kelas dan memeriahkan HUT Purbalingga. “Semoga ini bisa menjadi wadah untuk mengapresasi puisi,” kata Putri.(*)

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *