Pilihan

Kenapa Bupati dan Wabup Dinilai Gagal Paham Atas Visi & Misinya?

BRALING.COM, PURBALINGGA – Bupati dan Wakil Bupati Purbalingga dinilai masih belum mengaplikasikan visi dan misinya secara tepat. Sejauh ini, kebijakan yang dibuat pemerintah kabupaten masih berorientasi pada aksi-aksi yang sebatas lipstik semata.

“Kita, jangan sampai memiliki pemimpin yang gagal memaknai visi dan misinya sendiri,” kata Ketua Lakpesdam NU Purbalingga, Agus Sukoco ketika Diskusi Terbuka “Antara Tugas Negara dan Masyarakat; Implementasi Visi – Misi Hingga Hari Ini” di Markas CLC Purbalingga, Kamis 30 Juni 2016.

Diskusi ini digelar dengan kerjasama Lakpesdam NU Purbalingga, CLC Purbalingga, Institut Negeri Perwira dan Braling.com. Kalangan pemuda desa, pengacara, seniman, pengusaha UMKM hadir dalam diskusi tersebut.

Indikasi gagal paham itu terlihat dari maraknya judi togel. Maraknya togel di Bulan Ramadan ini menandakan visi – misi tentang akhlakul karimah belum diwujudkan. Sebagai pemimpin daerah, seharusnya bupati bergerak dengan kebijakan nyata bukan sebatas himbauan.

Tugas mengingatkan secara lisan atau dengan hati merupakan wilayah kerja ulama, komunitas atau masyarakat. “Urusannya saya sebenarnya bukan togelnya, tapi kadung sudah ada kata akhlakul karimah, maka saya tergerak untuk mendiskusikan masalah-masalah ini,” ucap Agus.

Lalu, Agus membandingkan dengan kebijakan Subuh Berjamaah. Subuh Berjamaah adalah hal baik, namun program itu tak berhubungan dengan peran negara atau pemerintah. “Apa ada aturan kalau tidak sholat subuh akan dipecat sebagai PNS, dicabut KTP-nya sebagai warga Purbalingga,” ujar Agus.

Ia menambahkan, Subuh Berjamaah itu bisa membuai masyarakat, seolah-olah Purbalingga sudah religius, sudah berakhlakul karimah. Tapi nyatanya belum ada tindakan konkret untuk mengatasi masalah-masalah yang melawan nilai-nilai akhlak mulia.

Seniman Purbalingga, Trisnanto Budidoyo juga masih menilai program pemkab sekarang ini masih sebatas program yang fenomenal. Termasuk juga soal Subuh Berjamaah. “Banyak yang tidak ikhlas, saya yakin. Misalnya saja ke Karangjambu, arep mangkat jam pira?” ujar Trisnanto.

Tidak hanya soal subuh berjamaah, namun juga soal MURI yang getol dikejar Bupati dan Wakil Bupati. “Sejauh ini, idenya memberatkan masyarakat. Ini ide bupati sendiri, atau ide pembisik-pembisik. Apa ini ada yang sedang menjungkelkan sekalian?,” kata Trisnanto.

Pengacara, Endang Yulianti mengatakan, secara aturan, penanganan penyakit masyarakat seperti togel ini sudah cukup memadai. Yang kurang cuma penegakannya. “Saya yakin polisi bukannya tidak tahu. Saya yakin 1000%. Tapi kenapa masih belum ada penanganannya,” ujar dia.

Menurut dia, Bupati dan Wabup Purbalingga harus aktif berkoordinasi dengan aparat keamanan. “Pemkab bukan pemilik kewenangan (menghukum), tapi bupati sebagai kepala rumah tangganya. (Koordinasi) Ini jauh lebih konkret dibanding sekedar menghimbau masyarakat,” imbuh Endang.

Direktur Institut Negeri Perwira, Indaru Setyo Nurprojo yang menjadi moderator diskusi menjelaskan bahwa kritik dan gagasan dibangun dalam koridor mengontrol visi dan misi Purbalingga. “Kita mengkritik bukan asal. Ini ada dasarnya. Kritik ini sebagai bentuk rasa sayang,” kata dia.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.