Gaya Pilihan

Ketika Ahmad Tohari Bicara Budaya Literasi yang Memprihatinkan

BRALING.COM, PURBALINGGA – Budayawan dan Penulis kenamaan di Bumi Panginyongan, Ahmad Tohari mengaku sangat prihatin dengan rendahnya budaya membaca dan menulis atau lazim disebut dengan budaya literasi di Banyumas Raya.

Sata jadi pembicara di seminar yang digelar Pendapa Dipakusuma beberapa waktu lalu, Ahmad Tohari berkata bahwa rendahnya budaya literasi membuat Bangsa Indonesia terus terbekalang. Menurut dia, semangat budaya literasi harus terus digaungkan.

Ahmad Tohari prihatin budaya literasi.
Budaya literasi harus dipupuk dari lingkungan rumah dan sekolah.

“Kita kurang sekali budaya menulis, mungkin karena kita mendapatkan warisan budaya lisan. Mari kita akhiri kelemahan kita ini,” kata Tohari.

Penulis yang identik dengan novel Ronggeng Dukuh Paruk ini berpendapat bahwa budaya literasi bisa dimulai dari lingkungan rumah dan sekolah. Misalnya, dengan cara orang tua ataupun guru menceritakan dongeng kepada anak sebelum tidur atau saat pelajaran.

Menurut Tohari, memberi contoh membaca dan menulis adalah cara mudah membudayakan literasi. “Mbok sekali-kali, bapak dan ibu guru datang dengan menenteng buku. Syukur syukur di jam istirahat, bapak dan ibu guru membaca buku,” kata Tohari.

Nah, mengenai menulis, Ahmad Tohari bilang bahwa menulis itu perkara kebiasaan, sekalipun ada perbedaan ya hanya pada kualitas tulisannya. Semua orang berpotensi menjadi penulis.

“Hanya saja, semua harus dilalui menjadi pembaca yang serius dan dilandasi dengan cinta kepada bahasa Indonesia,” kata Si Penulis Bekisar Merah ini.

BANGKIT WISMO

One thought on “Ketika Ahmad Tohari Bicara Budaya Literasi yang Memprihatinkan”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.