Gaya Pawarta

Peringati Hari HAM Internasional, Sineas Purbalingga Putar Film

BRALING.COM, PURBALINGGA – Dimotori oleh CLC Purbalingga, sejumlah sineas muda di Purbalingga memutar perdana film dokumenter “Luka di Tanah Merah” untuk memeringati Hari HAM Internasional.

Pemutaran dilakukan di Markas CLC Purbalingga yang ada di Jalan Puring Purbalingga, Senin 12 Desember 2016. Penontonnya tak hanya dari Purbalingga namun juga dari Purwokerto, Kebumen, Bali dan kota lainnya.

Dokumenter “Luka di Tanah Merah” besutan sutradara Bowo Leksono bercerita tentang konflik tanah di wilayah Cilacap Barat. Warga di sana juga kerap dianggap sebagai antek PKI.

Film yang diproduksi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Purwokerto, CLC Purbalingga, dan Serikat Tani Mandiri (STaM) Cilacap ini diputar bersama film bertema serupa asal Bali “Masean’s Messages” yang disutradarai Dwitra J. Ariana.

“Terus terang, kami tidak pernah diajari sejarah seperti ini di sekolah. Sejarah Indonesia yang kami pelajari selalu terkait dengan tokoh-tokoh heroik. Ternyata ada sejarah kelam yang terjadi paskakemerdekaan dan pengaruhnya hingga saat ini,” ungkap Sekar Fazhari, pelajar SMA Negeri Bukateja Purbalingga.

Produser eksekutif film “Luka di Tanah Merah” yang juga Ketua AJI Kota Purwokerto Aris Andrianto mengatakan, konflik tanah seluas 12 ribu hektar yang melibatkan sekitar 17 ribu kepala keluarga di Cilacap Barat sudah berlangsung puluhan tahun.

“Ada kaitan sangat erat antara perampasan tanah rakyat oleh Negara dengan peristiwa pemberontakan yang sering distigmakan pada rakyat,” Aris menjelaskan.

Menurut Bowo Leksono, film berdurasi 20 menit ini sebenarnya belum mampu merangkum persoalan hingga dalam. “Terlalu kompleks persoalan tanah yang ditanggung ribuan warga,” kata Bowo.

“Namun setidaknya, lewat film mengabarkan pada khalayak bagaimana perjuangan petani di wilayah Cilacap Barat yang kerap mendapatkan stigma PKI,” kata Bowo yang juga Direktur CLC Purbalingga.

Dwitra J. Ariana mengaku lega bersemuka dengan apresian di Purbalingga dengan membawa filmnya yang sempat menjadi nominasi piala citra Festival Film Indonesia (FFI) 2016.

“Film saya berkisah kearifan lokal budaya Bali dalam rekonsiliasi konflik ’65 yang terjadi di satu desa di Bali lewat upacara adat. Dan itu mulai memengaruhi desa-desa lain dengan persoalan sama,” kata dia.

Aris Panji dari Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) ’65 Kebumen berkata upaya penyelesaian konflik ’65 tidak bisa mengandalkan Negara. “Harus ada inisiatif komunitas warga untuk menyelesaikannya seperti pada film Masean’s Messages,” kata dia.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.