Pawarta

Ciptakan Dua Aplikasi Keren, Alumni SMAN 1 Purbalingga Raih Penghargaan Internasional

BRALING.COM, PURBALINGGA – Tiga alumni SMAN 1 Purbalingga tahun 2011 meraih penghargaan internasional pada ajang International Invention and Innovative Competition (InIIC)  Serries 2 yang digelar di di Malaysia.

Mereka bersama enam temannya yang berasal dari UGM, UNY, dan The University of Hong Kong tergabung ke dalam dua tim. Masing-masing berhasil meraih medali perak untuk dua penemuannya, berupa program aplikasi Batik Detector, dan program aplikasi Game Visit Indonesia.

Bahkan, untuk program aplikasi Batik Detector sekaligus mendapatkan special award. Ajang bergengsi ini diikuti 180 tim, dari berbagai negara, diantaranya dari Thailand, Malaysia, Singapura, Hongkong dan Indonesia.

Mereka adalah Seivian Ginanta asal Desa Toyareka, Kecamatan Kemangkon kini kuliah di Ilmu Komputer UGM, Hardika Dwi Hermawan dari Desa Cipaku, Kecamatan Mrebet, mahasiswa Master of Science in Information Technology in Education (MITE), Faculty of Education, The University of Hong Kong dan Purwatmaja Listiadhi Karana dari Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah, kini mahasiswa S-2 Pendidikan Dasar, UNY.

Hardika Dwi Hermawan mengatakan, pada ajang InIIC ke 2, tim pertama dibimbing Dr Fatchul Arifin MT (dosen Fakultas Teknik UNY) dan membuat program aplikasi Batik Detector. Sementara tim kedua dibimbing Prof Sukirno MSi PhD (dosen Fakultas Ekonomi UNY), membuat aplikasi program game visit Indonesia. Handika Dwi menjadi ketua di dua kelompok itu.

“Saat di SMA, kami semua dari jurusan IPA, dan sama-sama aktif di Pramuka. Selanjutnya kami kuliah bareng di Yogyakarta dan kebetulan kost bareng,” ujar Hardika Dwi Hermawan seperti dirilis Dinkominfo Purbalingga.

“Kami ajak juga kawan-kawan di UNY dan UGM, jadilah kami yang berangkat ke Malaysia dalam dua tim, bersyukur bisa meraih medali perak dan special award,” imbuh Seivian Ginanta.

Sebagai informasi, Kompetisi InIIC ke 2 diselenggarakan oleh Mediate Nexus and Nuture a Fast (MNNF) bekerjasama MNNF Publisher, Advanced Scientific Press (ASP) dan beberapa perguruan tinggi ternama di Malaysia, 18 November 2017.

Sebagai informasi, Batik Detector merupakan aplikasi berbasis Mobile Phone yang menggunakan teknologi augmented reality (AR). Melalui kamera hape, aplikasi Batik Detector mendeteksi beragam motif batik yang dapat memunculkan elemen 3D, 2D, anmasi dan video dalam lingkungan nyata.

“Kami ingin mengaitkan bahwa perkembangan teknologi dapat sejalan dengan pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai budaya,” jelas Handika. Salah satu games yang terkenal dengan aplikasi AR adalah Pokemon Go.

Batik Detector telah mendapatkan Hak Atas Kekayaan Intelktual (HAKI) dari Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia pada tahun 2016. Batik Detector sebelumnya telah digunakan dan diujicoba di Sekolah Indonesia Singapore.

“Kini, aplikasi batik detector dapat digunakan di perpustakaan-perpustakaan, museum batik/budaya sebagai media pembelajaran, termasuk sebagai bonus aplikasi pada buku-buku motif batik Indonesia,”ujarnya.

Sedangkan aplikasi game Visit Indonesia adalah mobile game bergenre quiz yang  dapat membantu pengguna untuk lebih mengenal dan memahami ragam budaya nusantara hingga lebih dari 150 jenis kebudayaan dan pariwista Indonesia.

Game based learning ini didesain berdasarkan karakteristik game interaktif, terdapat award, leaderboard, dan bantuan yang menarik pengguna untuk mengenal lebih dekat budaya dan pariwisatanya,” ujar Seivian.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.