Pawarta

Begini Seharusnya Cara Partai Politik dan Politisi Dekati Anak Muda

BRALING.COM, PURBALINGGA – Menjelang tahun politik tanah air. Semua partai politik kini sedang menyusun strategi untuk membidik anak muda pada Pilpres maupun Pilkada. Alasannya karena jumlah mereka tergolong mayoritas.

Tidak hanya parpol, tokoh yang hendak menjadi calon presiden dan calon kepala daerah juga mau tidak mau harus pandai membaca karakter dan lincah bergaul pemilih muda.

Fenomena ini diperkuat oleh berbagai lembaga survei yang menyatakan anak muda adalah kunci utama penentu kemenangan politik elektoral. Situasi ini mendorong parpol berlomba-lomba membuat program kampanye untuk merayu segmen anak muda.

Gaya pendekatan parpol dan tokoh politik terhadap anak muda itu disayangkan Wildanshah Komisaris Perkumpulan Warga Muda. Wildanshah melihat program kepemudaan dari partai politik tidak ada yang menjawab kebutuhan dan memperjuangkan kepentingan anak muda.

Program partai politik hanya sekedar acara hura-hura untuk membangun kedekatan psikologis bukan mendorong anak muda lebih politis untuk memperjuangkan hak-haknya.

“Partai politik hanya merayu anak muda untuk memilih kandidat mereka dengan berbagi cara, namun tidak pernah sekalipun ada partai politik yang mencoba merumuskan kebijakan dan hak anak muda dengan serius. Sampai saat ini anak muda hanya jadi aksesoris politik oleh partai, yang sewaktu-waktu bisa dibuang ketika tidak diperlukan,” kata Wildanshah.

Wildanshah menyarankan, mendekati bonus demografi seharusnya partai politik lebih terbuka dan percaya kepada kekuatan anak muda. Partai politik harus berani memperjuangkan kouta representasi politik anak muda di parlemen.

Wildanshah menjelaskan ada 4 alasan pentingnya partai politik memperjuangkan kuota anak muda di parlemen. Pertama, urgensi untuk mendongkrak partisipasi politik anak muda dalam momentum bonus demografi.

Kedua, keberadaan anak muda di parlemen akan mempermudah proses identifikasi dan agregasi kepentingan-kepentingan anak muda yang tidak diperhatikan oleh anggota dewan yang lebih tua.

Ketiga, pentingnya representasi politik anak muda dalam parlemen untuk memastikan bahwa setiap kebijakan akan sesuai juga berbasis dengan kebutuhan, karakteristik dan pengalaman anak muda.

Serta yang keempat, dengan menghadirkan representasi politik anak muda dalam proses legislasi akan memberikan kontribusi besar pada arah regulasi dan perencanaan negara dalam menghadapi bonus demografi.

“Kalau ada yang bilang kuota dan kuantitas anak muda diparlemen tidak penting, lihat penelitian dan sejarah parlemen di Dunia, bahwa kuantitas jumlah wakil parlemen merupakan kekuatan politik yang paling signifikan, bahkan 20 atau 30 persen suara anggota sangat berdampak pada keberhasilan isu yang diperjuangkan itu,” Wildanshah menegaskan.

Selain kuota anak muda di parlemen, menurut Wildanshah, untuk memperkuat keterwakilan anak muda di parlemen adalah dengan mendorong partai untuk memilikit platform politik dan kebijakan yang konkrit membela kepentingan anak muda.

Seperti memulai kuota rekruitmen politik khusus anak muda untuk menjabat di struktur kepengurusan partai pada tingkat cabang hingga level nasional dan mengusulkan revisi UU Pemilu untuk memberikan kouta anak muda di parlemen.

“Kalau mau kongkrit, partai politik harus recruit anak muda jadi kader, dan kasih jabatan strategis bukan cuma jadi pengembira. Demi kepentingan masa depan, politisi senior harus berani dorong usulan Revisi UU Pemilu untuk memasukan kouta anak muda di parlemen, jangan cuma cari suara saat pemilu,” kata Wildanshah.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.