korupsi bupati tasdi purbalingga
Pawarta

Alur Duit Dugaan Korupsi Purbalingga Islamic Center

BRALING.COM, PURBALINGGA – Jaksa KPK, M Takdir mengungkapkan, PT Buaran Megah Sejahtera sempat tidak memenangkan lelang pembangunan Purbalingga Islamic Center. Namun, lelang diulang demi PT Buaran Megah Sejahtera menang lelang.

Bos PT Buaran Megah Sejahtera, Hamdani Kosen merupakan kontraktor yang biasa mengerjakan proyek di Kabupaten Purbalingga. Dalam pengerjaan proyek, Hamdani biasa bekerja sama dengan Librata dan anaknya Librata, Ardirawata karena memiliki relasi pejabat di Jawa Tengah.

“Librata mengurus keperluan terkait pelaksanaan kegiatan proyek di kantor Bupati Purbalingga tanpa sengaja bertemu dengan Bupati Purbalingga Tasdi. Kesempatan itu dipergunakan Librata Nababan menyampaikan keinginan agar perusahaan milik Hamdani dapat tetap dapat mengerjakan proyek di Kabupaten Purbalingga,” jelas Jaksa M Takdir.

Hadi dipanggil Tasdi untuk memberikan arahan agar proyek tersebut diberikan kepada Hamdani karena Librata berjanji memberikan sejumlah fee. Tasdi pun meminta fee sebesar Rp 500 juta kepada Librata.

Tasdi menerima uang Rp 15 juta di Pendopo Bupati Purbalingga melalui ajudannya Bimatama Setya. Setelah itu,

Jaksa M Takdir menjelaskan, awalnya, Hamdani tidak lolos proses lelang proyek tersebut karena perusahaan tidak memenuhi persyaratan. Namun Tasdi meminta Hadi untuk mengadakan proses lelang kembali agar perusahaan Hamdani yang dibawa Librata menang.

“Usulan ini disetujui Tasdi sekaligus mengingatkan Hadi Iswanto agar proyek pembangunan Islamic Center Purbalingga (Tahap II) dapat tetap dikerjakan oleh terdakwa (Hamdani),” ucap jaksa.

Setelah itu, jaksa mengatakan Librata mengirimkan uang Rp 15 juta kepada Tasdi di Pendopo Bupati Purbalingga. Uang ini diterima melalui ajudan Tasdi, Bimatama Setya. Tasdi kemudian meminta Librata menyiapkan fee Rp 500 juta.

Dijelaskan, Tasdi menerima uang Rp 100 juta melalui Hadi dari Ardirawinata. Uang tersebut dimaksud untuk diserahkan kepada Tasdi.

“Hadi Iswanto kemudian menaruh uang di sisi pintu belakang sebelah kanan mobil yang dikendarai. Setelah Ardirawinata Nababan menyerahkan uang, datang Petugas KPK,” kata Jaksa KPK.

Hadi sudah memasuki masa persidangan di Pengadilan Tipikor Semarang. Hadi didakwa melanggar Pasal 12 huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP.

Sementara Hamdani dan Librata didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto pasal 64 ayat (1) KUHP.

BANGKIT WISMO

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.