festival film purbalingga
Gaya Pawarta

Film “Buru”, Potongan Kisah Hidup Tahanan Politik Pasca ’65

BRALING.COM, BANJARNEGARA – Film bertema tragedi ’65 bakal kembali meramaikan jagat dunia sinema di Banyumas Raya. Kali ini SMK HKTI 2 Purwareja Klampok, Kabupaten Banjarnegara yang sedang memproduksinya.

Ekstrakulikuler Sinematografi Hika Production SMK HKTI 2 Purwareja Klampok memproduksi film bertema tragedi ’65 dengan fasilitasi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga.

Film fiksi pendek ini berjudul “Buru”. Produksi sudah dilaksanakan 27-28 April 2019 kemarin di wilayah Kecamatan Susukan dan Purwareja Klampok.

Sutradara film, Supangat menjelaskan, produksi film “Buru” menuntun produksi yang berbasis data dan literasi kuat tentang sejarah Indonesia tahun 1965. Produksi juga berat karena harus menyiapkan set
film dengan latar tahun 1979.

“Berat memang, tapi kami jadi berkesempatan belajar banyak hal, yang bahkan tidak kami pelajari di sekolah,” ujar siswa kelas X jurusan Teknik Komputer Jaringan (TKJ).

Film “Buru” berkisah tentang pemuda bernama Kodri. Selain dikenakan wajib lapor sepekan dua kali ke koramil. Kodri sempat menjadi anggota organisasi Pemuda Rakyat, setelah bebas dan pulang dari Pulau Buru masih diawasi, dicurigai, bahkan disepelekan.

Sebelum diasingkan ke Pulau Buru, Maluku, Kodri rajin beribadah dan mengajar anak-anak mengaji. Pun setelah pulang dari Pulau Buru, bedanya, ia mengajar mengaji anak-anak di langgar sambil diawasi tentara.

Sampai akhirnya, Kodri yang hanya tinggal bersama ibunya, bertemu Daryo, teman lama sesama bekas tahanan politik di koramil saat wajib lapor. Daryo meminta Kodri menikahi Sri, adiknya. Kodri tak menolak tawaran Daryo setelah mendapat restu ibunya.

Meski semestinya hidup bahagia dengan Sri yang sedang mengandung, namun hidup Kodri tampak semakin berat. Bukan karena beban ekonomi, tapi kekhawatiran dan kecemasan yang terus membayangi sebagai eks-tapol.

Menurut Taufik Setyo Pambudi, dalam memerankan tokoh Kodri, ia juga harus ikut membaca literasi yang dipelajari para kru selain menonton beberapa film pendek tema ’65 yang memang tidak banyak.

“Pada dasarnya, saya senang dunia akting, makanya ketika lolos casting, saya menjadikan peran ini sebagai tantangan,” ujar pria yang pernah belajar teater saat SMA.

Produser yang juga guru pembina ekskul sinema Anggiriani Agustin Puspitasari SPd bilang bahwa skenario film ini ditulis dari kisah nyata seorang mantan tapol dari Purbalingga.

“Ketika saya tawarkan pada anak-anak, mereka antusias dan menyatakan berani memfilmkan. Ya masa saya takut? Lagi pula, sekolah juga mendukung,” tutur guru pengampu pelajaran seni tari ini.

Film yang direncanakan berdurasi 15 menit ini, dipersiapkan untuk diikutkan pada program Kompetisi Pelajar se-Banyumas Raya Festival Film Purbalingga (FFP) 2019 yang akan digelar pada 6 Juli – 3 Agustus 2019.

BANGKIT WISMO

Tebarkan braling
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *