BRALING.COM, PURBALINGGA – Sejumlah tokoh di Kabupaten Purbalingga meyakini bahwa masyarakat Purbalingga segera kembali damai dan menyatu, selepas keriuhan karena pemilihan umum yang lalu.

Hal ini dilihat dari faktor sejarah, dimana masyarakat Purbalingga dalam sepanjang sejarahnya selalu hidup rukun dan damai. Selalu bisa mengatasi persoalan seberat apapun.

Faktor sejarah ini kemudian diperkuat dengan filosofi yang sudah menjadi nilai moral di rakyat Banyumasan. Yakni “Kadyo kinepung ribandil” dan “Kadyo mahesa cinancang dadung adhi”.

“Purbalingga itu kadyo kinepung ribandil. Walaupun terjadi pergolakan kecil ataupun di Purbalingga, akan terjadi kerukunan kembali,” kata Tridaya Kartika, tokoh masyarakat yang juga aktivis.

Semangat menjaga kebersamaan dan kedamaian Purbalingga ini ditegaskan dalam forum Silaturahmi dan Sarahsehan “Merawat Kebersamaan dan Perdamaian Purbalingga”, di Pendapa Dipakusuma 30 Juni 2019.

Agenda yang digelar Paseduluran Tanpa Tepi Warga Purbalingga ini dihadiri banyak tokoh masyarakat dan berbagai elemen, Bupati Purbalingga serta Kapolres Purbalingga.

Kebersamaan dan kedamaian yang dimaksud dalam forum tersebut ialah kebersamaan yang mengacu pada bhineka tunggal ika. Bukan kebersamaan yang melebur jadi satu apalagi diblender ludes.

Melainkan kebersamaan dan kedamaian yang diibaratkan kuliner rujak. Dimana kangkung, tahu, kobis, bumbu kacang dan yang lainnya tersaji dalam adonan yang harmonis dan bercita rasa.

“Kalau kita betul-betul mengimplementasikan paseduluran tanpa tepi ini, maka selesai permasalahan (perpecahan bangsa),” kata AKBP Kholilur Rochman SH SIK MH, Kapolres Purbalingga.

Baca Juga: Layar Tanjleb FFP 2019 Bakal Memutar Film “Keluarga Cemara” & “Keluarga Pak Carik”

Tokoh masyarakat seperti Pendeta Hotler A Manurung juga memandang pentingnya semangat paseduluran dalam kondisi bangsa yang terkotak-kotak selepas Pileg dan Pilres 2019 kemarin.

“Yang dekat bisa menjadi jauh, yang jauh bisa menjadi dekat. Saya pikir jawaban ya paseduluran,” kata Pendeta Hotler A Manurung dalam forum yang berlangsung hangat tersebut.

“Saya yakin, semua yang bergabung dalam forum ini adalah betul-betul warga Purbalingga yang peduli terhadap kemajuan Purbalingga dan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” kata Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi.

Koordinator acara silaturahmi dan sarahsehan, Agus Sukoco yang juga merupakan budayawan bercerita banyak tentang nilai kearifan lokal yang mendukung pentingnya kebersamaan dan perdamaian.

“Jangan sampai batas-batas yang selama ini ada membuat kita menganggap berbeda satu sama lain,” kata Agus Sukoco.

Agus Sukoco menambahkan, sejarah merekam jika Purbalingga memang lekat dengan suasana damai dan penuh kebersamaan, akan tetapi di era global seperti sekarang ini, apa yang terjadi di luar Purbalingga bisa bisa saja mempengaruhi keadaan di Purbalingga.

“Pilihan tema kemarin juga bagian dari ‘merawat kebersamaan dan kedamaian Purbalingga’. Damai dan kebersamaan sebenarnya sesuatu yang sudah menjadi “watak sejarah Purbalingga,” kata Agus menjelaskan.

“Atas dasar itulah, acara kemarin diadakan. Yaitu untuk memagari dan meningkatakan daya tahan pbg dari ‘angin jahat’ perseteruan nasional dan global,” kata Agus Sukoco kepada Braling.com.

BANGKIT WISMO