BRALING.COM, PURBALINGGA – Untuk mengurangi dampak dari terjadinya bencana alam berupa tanah longsor, Desa Gunungwuled Kecamatan Rembang dipasangi alat Early Warning System (EWS) atau alat peringatan dini.

Pemasangan alat peringatan dini tersebut dilakukan oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Sebelas Maret (KKN UNS). Mahasiswa KKN itu memang mengusung KKN Tematik Pengurangan Resiko Bencana.

Ketua KKN UNS di Desa Gunung Wuled, Muhammad Annas menjelaskan, pemasangan alat peringatan dini itu dilakukan karena wilayah Desa Gunungwuled sering mengalami pergerakan tanah. “Belum ada alat pendeteksi bencana,” kata Annas.

Annas menjelaskan, tidak banyak desa yang dipasangi alat pendeteksi dini, meski sangat rawan terjadi tanah longsor. Ini karena biaya pengadaan alat yang cukup tinggi.

“EWS sendiri itu banyak macamnya, tergantung jenis bencananya untuk EWS yang kami buat khusus untuk bencana tanah lonsor,” jelas Annas, 15 Agustus 2019.

Baca Juga: Pemkab Usulkan Tes Urine di Kalangan Pelajar Purbalingga Demi Berantas Narkoba, Setuju?

EWS yang dipasang dapat mendeteksi pergerakan tanah pada daerah yang selalu mengalami pergerakan tanah. Alat tersebut memiliki tiga tanda lampu untuk menunjukan tingkatan bahaya yang terjadi.

Lampu biru untuk tingkatan bahaya ringan, lampu kuning untuk bahaya sedang, dan lampu merah untuk tingkatan bahaya tinggi. Ketika lampu indikator berwarna merah menyala, maka akan disertai dengan bunyi sirine.

Bunyi tersebut dapat memberitahukan warga sekitar adanya pergerakan tanah atau terjadi tanah longsor. “Untuk pemasangan alat ini ada di Dusun Pentul Rt 03/05 dan untuk pemasangan ini pun kami mengundang BPBD Purbalingga,” kata Annas.

“Harapan besarnya tidak ada atau sedikit yang menjadi korban jiwa apalagi berdasarkan data yang kami dapatkan desa ini paling tinggi resiko bencana longsornya,” imbuh Annas.

BANGKIT WISMO