BRALING.COM, PURBALINGGA – Ketika ingin membangun sebuah startup, semangat dan ide kreatif tidaklah cukup. Buktinya, tidak banyak startup yang mampu bertahan di tengah ramainya dunia bisnis Indonesia.

Marketeer.com menyebut paling tidak ada lima kesalahan yang biasanya dilakukan oleh para startup. Meskipun lima kesalahan ini terkesan sederhana, namun berdampak signifikan pada masa depan startup itu.

Pertama, banyak startup gagal berdiri karena konfilik antar-founder alias keributan internal tim. Hal ini terjadi karena perjanjian antara founder dengan co-founder kerap disepelekan.

Bagaimanapun, ketika terdapat founder dan dua sampai tiga orang co-founder yang sama-sama ambisius, tentu saja ini berarti juga ada banyak pemikiran dan emosional yang beragam.

Perjanjian hitam di atas putih bakal membantu menekan konflik di internal tim. Hal ini karena ada acuan kesepakatan resmi yang sudah disepakati di awal kerjasama.

Kedua, tidak menyiapkan legalitas berupa Badan Hukum Perseroan Terbatas (PT) dan standar perjanjian. Status PT disarankan mengingat memiliki aturan yang lebih jelas, pertanggungjawaban pemegang saham atas kerugian perusahaan sebatas saham yang dimiliki.

Ketiga, banyak ditemukan startup yang tak memiliki perizinan usaha dan dokumentasi ketenagakerjaan. Padahal pengupahan dan hubungan kerja merupakan hal yang krusial.

Kedua hal itu berdampak besar bagi jalannya perusahaan. Bahasan seperti kontrak kerja, hak dan kewajiban tenaga kerja, menjadi bahasan yang dijaga penuh oleh regulasi.

Keempat, kekayaan intelektual yang dibiarkan begitu saja. Tidak melindungi kekayaan intelektual atas usaha dan memulai usaha dengan nama yang tidak dapat didaftarkan secara hukum akan mengancam keutuhan brand.

Kelima, Privasi website. Nah ini yang sering diabaikan oleh startup. Banyak yang melupakan Term of Use Agreement disclaimer dan Privacy Policy untuk website dan perjanjian usaha.

BANGKIT WISMO