BRALING.COM, PURBALINGGA – Orang-orang tak kunjung beranjak dari Rest Area Curug Kali Karang, padahal malam kian larut sementara dingin kian tega menusuk tulang.

Alunan musik yang menggema di Desa Wisata Tanalum, Kecamatan Rembang, 3 Agustus 2019 pun seolah menjadi pemersatu berbagai macam individu yang turut meramaikan Tanalum Culture Festival 2019.

Sementara Kopi Lutan menjadi penghangat yang tak bisa ditolak lagi di malam minggu itu. Anak-anak hingga orang dewasa tampak menikmati sajian utama event yang baru kali pertama digelar ini.

Apalagi, Kopi Lutan diracih manual di antara sinar temaram lampu di pinggir curug yang punya aroma khas hutan. “Syahdu banget, hangat dan harumnya aroma kopi menghangatkan hati yang beku,” kata Afitasari, salah satu pengunjung festival.

Menurut Afitasari, suasana tepi air terjun dan nuansa desa menjadi perpaduan yang khas dari Tanalum Culture Festival. “Rasanya pengin di sini sampai pagi,” imbuhnya.

Baca Juga : Sineas Muda Purbalingga dan Banjarnegara Kuasai FFP 2019

Sebagai informasi, Tanalum Culture Festival ini digagas bersama Pokdarwis Desa Wisata Tanalum dan mahasisw KKN UGM di Desa Tanalum. Festival ini dilaksanakan 3-4 Agustus 2019.

Pengunjung malam itu juga dimanjakan dengan ketrampilan Chef dari ICA dalam mengolah pakis menjadi kuliner yang endees. Tanaman pakis ini memang tumbuh subur di hutan Desa Tanalum.

Festival yang mengusung tema cerdas berkarya luhur berbudaya ini juga diisi dengan penampilan seni trasidi Tari Nggoser, tandak lesung dan kentongan. Kemudian ada perlombaan menyusun keseimbangan batu, pameran produk UKM, pameran kopi lokal serta festival jajanan pasar.

“Semoga tahun depan bisa mendatangkan musisi ibukota, bisa menjadi even besar, berkelas, diikuti ribuan wisatawan, bisa meningkatakan pengunjung dan pendapatan warga sekitar,” kata M Fatah, ketua Pokdarwis Desa Wisata Tanalum.

wisata terbaru purbalingga  Syahdu Tanalum Culture Festival 2019 yang Tak Mudah Dilupakan WhatsApp Image 2019 08 05 at 08

Fatah menjelaskan, salah satu program unik yang terdapat di Tanalum Culture Festival ini ialah kompetisi menata batu alias rock balancing di Kali Karang.

Yang dinilai dari kompetisi yang terinspirasi dari kebiasaan masyarakat bermain batu saat musim kemarau tersebut adalah keunikan batu yang telah tertata dan tingkat kesulitan untuk menata batu.

Kabid Pariwisata pada Dinporapar Purbalingga, Kustinah mengapresiasi konsep festival ini. “Hal-hal yang unik dan menarik serta tidak ada di objek wisata yang lain, yang perlu kita dorong agar para wisatawan bisa menikmatinya,” katanya.

Sedangkan Camat Rembang, Revon Haprindiat berharap Tanalum Culture Festival bisa dikembangkan untuk bisa menghadirkan turis dari mancanegara.

INA FARIDA