BRALING.COM, PURBALINGGA – Festival Gunung Slamet yang digelar di Desa Serang, Kecamatan Karangreja bukan hanya atraksi wisata, namun juga wujud syukur sekaligus semangat pelestarian alam pegunungan.

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi memberi contoh prosesi pengambilan air dari mata air Sikopyah. Prosesi ini bukan hanya tradisi warga Desa Serang, namun juga upaya konservasi lingkungan.

“Simbol 777 dalam bahasa Jawa diartikan sebagai Pitulungan yang berarti, air itu membawa pertolongan kepada warga masyarakat Serang dan Purbalingga,” kata Bupati Tiwi.

Prosesi pengambilan air di mata air Tuk Sikopyah memang menggunakan 777 lodong air. Lodong air merupakan bambu yang dipotong sepanjang 2-3 ruas mata bambu.

Baca Juga: 5 Faktor Penting Membuat Brand Bertahan di Tengah Persaingan

Festival Gunung Slamet digelar 27-29 September 2019. Prosesi Tuk Sikopyah hanya salah satu atraksi wisata yang disajikan. Ada juga Festival Rebana dan Senandung Religi bersama Hadah Alwi

Kemudian ada juga Pawai Budaya dan Akustik Kabut Lembut yang menghadirkan Anji. Lalu, ada Perang Tomat, Festival Seni Dulongmas, Gebyar Calung Banyumasan serta Festival Ebeg.

Kepala Desa Serang, Sugito mengatakan Kirab Sikopyah merupakan salah satu andalan di Festival Gunung Slamet 2019. Kirab ini menempuh perjalanan sekitar 2,5 Km ke sumber mata air Sikopyah.

Dalam iring-iringan warga, para wanita mengenakan kain warna hijau serta merah dan kaum pria memakai pakaian serba hitam disertai ikat kepala. Beberapa wanita tampak membawa sesaji, sapu lidi dan kendi.

“Pengambilan air itu dipercaya menjadi upaya untuk mencegah wilayah yang ada di lereng Gunung Slamet dari musibah kekeringan dan paceklik,” kata Kades Sugito.

Ritual itu dilakukan secara rutin setiap tahun. Namun, pada sejak tahun 2015 kegiatan ini dikemas dalam atraksi wisata Festival Gunung Slamet.

anji di purbalingga  Festival Gunung Slamet menjadi Atraksi Wisata Sekaligus Wujud Komitmen Konservasi WhatsApp Image 2019 09 28 at 22
Anji menghibur masyarakat di Akustik Kabut Lembut Festival Gunung Slamet 2019. (Sumber Foto GenPI Purbalingga)

Sugito mengatakan air dari Sikopyah merupakan air kehidupan bagi warga desa Serang, Kutabawa dan Siwarak. Bahkan dialirkan hingga wilayah kabupaten tetangga Pemalang.

Mata air Sikopyah merupakan satu dari mata air terbesar di lereng timur Gunung Slamet. Yakni mata air panas Guci, mata air panas Baturaden dan mata air dingin Sikopyah di desa Serang.

“Dari cerita masyarakat, asal mula nama Sikopyah berasal dari legenda Haji Mustofa yang tinggal di Padepokan Dukuh Kaji milik Ndara Subali yang suka bertapa di mata air Sikopyah. Mata air itu merupakan tempat mandi dari Haji Mustofa,” jelasnya.

Nama Sikopyah berasal dari kata kopyah dalam bahasa jawa yang berarti peci atau ditempat lain ada yang menyebutnya songkok atau kupluk.

Ceritanya, suatu ketika, kopyah Haji Mustofa ketinggalan dan hilang di tempatnya bertapa. “Maka Haji Mustofa menamakan tempat tersebut sebagai mata air Si Kopyah,” tuturnya.

Sementara itu, konser Akustik Kabut Lembut berlangsung syadhu di antara kabut Gunung Slamet yang menyelimuti Desa Serang. Anji dan sejumlah artis yang datang mampu menghibur penonton dari berbagai daerah di Purbalingga dan sekitarnya.

BANGKIT WISMO