PURBALINGGA, BRALING.COM – Seorang pejabat mendapat perintah memanipulasi anggaran melalui panggilan telepon. Dengan santai ia mengiyakan permintaan itu dan mulai membuka file rencana anggaran yang ada di dalam computer jinjing di atas meja kerjanya.

Sebelum mulai mengotak-atik anggaran, ia menyempatkan melihat foto keluarga di sebelah laptop, lalu menyeringai. Jarum jam tepat menunjuk pukul 14.00. Ia mulai me-markup anggaran dari pos pekerjaan persiapan, yang semula Rp 110 juta menjadi Rp 500 juta.

Namun baru sampai pada digit keenam, waktu terhenti. Dari balik pintu ruang kerja masuk tiga orang petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Petugas KPK itu terus mendekat begitu tiap digit nominal anggaran manipulatif itu diketik. Namun ketika dihapus satu digit, petugas KPK itu pun mundur satu langkah.

Begitu diketik sempurna, tiga orang berompi KPK dan bermasker menjegal dan menyeretnya. Ia pun ketakutan setengah mati. Keringat mendadak mengucur dari keningnya yang tampak lebar karena kebotakan. Sesaat kemudian ia terjaga. Ternyata para petugas KPK itu hanyalah mimpi buruk.

Itulah sepotong adegan pada film One Second yang diputar pada malam apresiasi dan aksi membela KPK di Taman Kota Usman Janatin, Sabtu malam (21/9). Aksi ini dimotori Cinema Lovers Community dan elemen masyarakat sipil lainnya.

Ya, mungkin benar, bagi pejabat korup, KPK bisa jadi menjadi momok, sosok yang menyeramkan layaknya genderuwo, kuntilanak atau semacamnya. Itu pula kenapa upaya pelemahan KPK tak henti-hentinya dilakukan.

Puncaknya ya tahun ini, di mana para pimpinan terpilihnya diisi tokoh-tokoh kontroversial dan Undang undangnya membatasi kewenangan dan ruang gerak KPK. Inilah yang melatari aksi membela KPK di Purbalingga. Acara dikemas ringan dengan pementasan musik, pemutaran film, dan pembacaan puisi.

Meskipun demikian, tajuk gelaran ini tetapmenyuarakan dukungan untuk KPK, yaitu “KPK Rika Ora Dewekan” atau dalam bahasa Indonesia, KPK Kamu Tidak Sendiri. “Tajuk ini pernah kami gunakan sekitar lima tahun lalu ketika KPK menghadapai ancaman pelemahan seperti sekarang,” ujar Direktur CLC, Bowo Leksono.

Meskipun Tmaman Kota Usman Janatih tak sesak berjejal, namun ada puluhan pengunjung yang mengikuti acara ini. Mereka dihibur grup musik Limbah Industri, Yogi and Friends, Kelompok Musik Padamara, dan pembacaan puisi dari berbagai kalangan. Semua menyuarakan syair bertema antikorupsi dan ketidakadilan.

Budayawan Purbalingga, Agus Sukoco, dalam orasi budayanya menegaskan masih ada optimisme meskipun KPK dilemahkan. Optimisme itu berupa kegelisahan rohani publik. “Dan kita yang hadir di sini mewakili kegelisahan publik itu. Semakin kita dilemahkan, semakin kita kuat,” ujar dia.

Panitia juga memutar tiga film pendek antikorupsi dari Anticorruption Film Festival (ACFFest) berjudul “One Second”, “Jimpitan”, dan “Ora Imbang”. Judul terakhir diproduksi oleh pelajar SMA Negeri Karangreja Purbalingga.

Pipit Avrilia, seorang peserta, mengatakan, bagi anak muda, acara seperti ini menarik yaitu menyuarakan sesuatu melalui seni. “Berbicara tentang antikorupsi melalui seni itu lebih mengena. Kita seperti disentil dan diingatkan bahwa para koruptor itu sebenarnya sedang mengintai kita yang anti terhadap mereka,” kata dia.

Galih Satria dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) yang juga turut berorasi mengatakan, acara ini sebagai bentuk dukungan bahwa KPK tidak sendirian. KPK sebagai lembaga yang dibentuk berdasarkan amanah reformasi harus tetap di hati masyarakat.

Revisi Undang-Undang KPK, menurut Galih merupakan tindakan pelemahan yang secara tegas dilakukan legislatif dan eksekutif. “Hal itu mengakibatkan pemberantasan korupsi di Indonesia diambang batas kematian,” terangnya.

Koordinator acara Bowo Leksono mengatakan, KPK tidak sekali dua kali mengalami pelemahan, namun seringkali. “Lewat karya, kami akan terus mengawal dan terus menyuarakan ketika KPK dilemahkan,” ujar dia.

RUDAL AFGANI