BRALING.COM, PURBALINGGA – Produk benang antih dari Desa Tumanggal, Kecamatan Pengadegan terus dikembangkan, demi meningkatkan nilai jualnya. Kini, produsen didorong produk olahan benang antih.

Kini, benang antih sudah diproduksi juga dalam bentuk tas, sepatu, hingga kain slayer. Pengembangan produk berbasis benang antih ini mendapat apresiasi Bupati Purbalingga.

“Sebelum ini, kita itu ndadak jualan ke Pekalongan untuk diolah menjadi kain. sehingga saya minta kepada kades untuk mengolah benang antih menjadi kain, dan kemudian dari kain diolah menjadi yang lebih memiliki nilai ekonomi,” kata Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi.

“Saya perintahkan Disperindag untuk membantu alat tenun benang menjadi kain, dan kini sudah ada hasilnya,” kata Bupati Tiwi ketika di acara roadshow UMKM di Kecamatan Pengadegan, 27 Desember 2019.

Salah satu perajin benang antih, Saeful Yuniarto berkata, sekarang ini terdapat 700 perajin benang antih dan tiga orang pembuat kain tenun dari benang antih dengan nama Kain Tumanggal.

“Untuk meningkatkan harga jual, saya membuat aneka barang dari kain tenun antih, seperti sepatu, tas wanita dan kain slayer sebagai penghangat badan,” tutur Saeful.

Selama ini pemasaran dilakukan melalui media sosial. Banyak pesanan dari luar daerah seperti Bali, Yogyakarta dan Jepara. Harganya juga cukup terjangkau, misalnya untuk kain slayer berukuran 60 x 20 cm, hanya dijual Rp 250.000.

Sebagai informasi Roadshow UMKM Kecamatan Pengadegan diikuti oleh sembilan stand dari masing-masing desa. Roadshow dibarengkan dengan pembagian santuanan bagi anak-anak yatim, piatu dan duafa, Orang Dengan Kecacatan Berat (ODKB) dan bantuan Kredit Mawar.