BRALING.COM, PURBALINGGA – Alunan syahdu biola mengiringi pembukaan Natal Bersama 2019 dan Tahun Baru 2020 warga Jalan Sekar Seroja 1 dan Tanjung Raya Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan Purbalingga.

Chealsea Aurelia Sugiarto, Mahadevi Bunga Purwatya Sakti, Amelia Zevanya, dan Katarina Devina Rahadian dibawah arahan Anggoro Bayu Aji berkolaborasi menyiptakan suasana akrab.

Chealsea dan Bunga meski mengenakan jilbab, tampil penuh penghayatan bersama Amelia dan Devina memainkan biola. Mereka mengiringi lagu Malam Kudus yang dinyanyikan oleh umat beragama Kristen dan Katolik.

Meskipun hanya ada lima Kepala Keluarga di wilayah RT yang berada Perumahan Griya Abdi Kencana ini. Tidak ada sekat yang membedakan. Keluarga Muslim, Kristen dan Katolik serta Konghucu berbaur menyatu.

Mereka larut dalam suasana kedamaian guna nyengkuyung pelaksanaan acara yang digelar di selasar rumah Aris Sugiarto dan Anggoro Bayu Aji, salah seorang warga setempat yang beragama Islam.

“Merawat serta menggelorakan perdamaian dan toleransi antar umat beragama dalam bingkai NKRI wajib dilaksanakan. Wujud nyata toleransi umat beragama terlihat pada perayaan ini,” kata Mahendra Yudi Krisnha, Ketua RT 04 RW 09.

“Kami ingin membuktikan kepada masyarakat luas, rasa toleransi itu penting. Hidup rukun, penuh kedamaian, gotong royong dan saling tolong menolong dalam kebersamaan adalah hal paling penting yang harus dilaksanakan,” kata dia.

“Kegiatan kerohanian tidak hanya untuk umat Islam saja. Namun yang beragama lain juga kami perhatikan. Dan kami kan ada dana RT yang terkumpul dari iuran warga, yang kami gunakan untuk mendukung berbagai kegiatan, diantaranya kegiatan kerohanian seperti ini,” imbuh Mahendra.

Sikap toleransi antar umat beragama di wilayah ini sudah terjalin lama. “Apa yang sudah berjalan selama ini perlu dipertahankan, dijaga, dan dirawat bersama-sama,” kata Mahendra lagi.

Perwakilan umat Kristen dan Katolik warga RT setempat, Ignatius Iwan Setianto menyampaikan 10 pesan natal dari Paus Fransiskus, pemimpin tertinggi umat Katolik sedunia.

Yakni jangan menggosip, makan harus habis, sediakan waktu untuk orang lain, belanjalah seperlunya, jumpailah orang miskin secara nyata, dan berhentilah menghakimi orang lain.

Kemudian ada pesan untuk jadilah teman bagi orang yang tidak sepaham dengan kita, buatlah komitmen hidup langgeng seperti perkawinan, biasakanlah bertanya pada Tuhan, dan semoga kita semua berbahagia.

“Pesan ini universal, dan marilah kita renungi bersama,” tutur Ignatius Iwan Setianto yang beragama Katolik.

Prasetyo, warga Gereja Kristen Jawa (GKJ) Penaruban Purbalingga yang hadir mengapresiasi acara ini. “Semangat toleransi di Indonesia telah menjadi energi persatuan, dan kita wajib menjaga,” kata dia.