BRALING.COM, JAKARTA – Dalam dunia bisnis, emosi manusia masih menjadi salah satu aspek yang sangat berpengaruh dalam aspek konsumsi. Apalagi di era experience economy seperti sekarang.

Managing Director of SAP Indonesia, Andreas Diantoro berkata, emosi manusia menjadi senjata dalam memenangkan pasar. Andreas mengatakan hal itu dalam sebuah forum di Jakarta, 11 Maret 2020 lalu.

“Starbucks mengklaim bahwa ritel coffee shop miliknya merupakan pilihan hangout ketiga setelah rumah dan kantor. Hal ini didapatkan dari strategi Starbucks Experience yang berlaku di semua ritelnya yang tersebar di seluruh dunia,” kata Andreas.

Di masa kini, menjadikan experience atau pengalaman sebagai senjata marketing sudah umum dilakukan, akan tetapi masih belum semua merek sukses memenangi pasar.

Andreas menyontohkan Fore Coffee sebagai salah satu brand yang sukses dengan senjata experience. Fore Coffee berhasil membawa pengalaman minum kopi seperti yang dilakukan oleh Starbucks, namun membawa pengalaman itu langsung ke rumah pelanggannya.

“Mereka tahu kesibukan pelanggan yang tidak mungkin setiap hari memiliki waktu untuk mampir ke kedai kopi. Maka, pengalaman itu mereka bawa ke tempat-tempat pelanggan. Bisa kantor, rumah, atau ke mana pun menggunakan teknologi,” jelas Andreas seperti dikutip dari Marketeer.com.

Di Indonesia, strategi experience economy diterapkan juga oleh Gojek dan Grab. Yang mana kedua brand ojek online tersebut memanfaatkan experience gap yang dialami oleh konsumen.

“Experience gap yang kedua startup tersebut manfaatkan adalah susahnya mendapatkan ojek bagi para konsumen. Karena itu, mereka membuat aplikasi yang dapat memudahkan konsumen,” kata Andreas, lagi.

Andreas kemudian menjelaskan tentang experience economy. Yakni strategi pemasaran dimana konsumen benar-benar bisa merasakan atau memikirkan produk yang telah disediakan oleh pemasar.

Dengan mengetahui perasaan konsumen, perusahaan menyempurnakan atau menawarkan produk baru sesuai dengan keinginan konsumen. Experience economy menciptakan komunikasi dua arah antar perusahaan dan konsumen.

Andreas menjelaskan, perusahaan dapat bertanya mengenai experience atau pengalaman konsumen mengenai produk yang ditawarkan, konsumen dapat memberikan feedback mengenai produk perusahaan

Sehingga, lanjutnya, perusahaan mengetahui perasaan konsumen mengenai servis mereka. “Dari perasaan tersebut, mereka dapat membuat suatu produk baru. Ini yang kita sebut sebagai experience economy,” jelas Andreas.

Teknologi berperan besar bagi perusahaan untuk memenangkan pasar di era ini. Teknologi memungkinkan perusahaan untuk lebih mudah mengolah data-data yang disarikan dari pemetaan konsumen. Mulai dari kebutuhan, keinginan hingga perasaan konsumen.

“Data-data personalisasi ini yang menjadi kunci kapan merek bisa ‘menyerang’ konsumen dan mendapatkan hati mereka,” kata Andreas menambahkan.