BRALING.COM, PURBALINGGA – Pandemi Covid-19 telah menghantam industri pariwisata Indonesia, termasuk juga pariwisata di Purbalingga. Kebijakan untuk menutup destinasi wisata tentu saja membuat pengelola wisata ibarat “mati kutu”.

Industri pariwisata yang mengandalkan wisatawan mancanegara diprediksi baru bergeliat di tahun 2021 mendatang. Sedangkan wisatawan domestik diperkirakan mulai berwisata pada Juni 2020 besok.

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah menyebut kondisi selepas Covid-19 sebagai “the new normal”, yang sudah berdampak pada perubahan cara berwisata di suatu destinasi wisata.

Traveler akan lebih memperhatikan protokol-protokol wisata. Faktor kesehatan, keamanan, kenyamanan, sustainable and responsible tourism, authentic digital ecosystem, unsur digitalisasi menjadi beberapa hal yang sangat diperhatikan oleh wisatawan.

“Hal seperti ini akan menjadi platform ke depan, bagaimana pariwisata berkelanjutan jadi sebuah konsekuensi dari bagian pengembangan pariwisata,” kata Staf Ahli Bidang Pembangunan Berkelanjutan dan Konservasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Frans Teguh.

Frans menyebut, penggiat pariwisata, pelaku desa wisata, serta komunitas yang berhasil menerapkan pariwisata berkelanjutan akan memberikan nilai tambah dalam perkembangan ekonomi maupun pengembangan industri pariwisata.

Indonesia berupaya menerapkan pariwisata berkelanjutan dengan mengacu pada pedoman Global Sustainable Tourism Council. Dengan berkordinasi dengan UNWTO, telah terbentuk Indonesia Sustainable Tourism Council (ISTC).

Pemerintah pusat telah menyusun pedoman dalam penerapan pariwisata berkelanjutan, melalui Permenpar Nomor 14 tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Namun, kata Frans, penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan butuh kerjasama berbagai pihak.

“Bukan hanya kerja sektoral, tapi harus menyeluruh baik masyarakat, pemerintah, akademisi dan lainnya atau yang biasa kami sebut pentahelix. Berbagai disiplin ilmu harus bekerja bersama-sama dan memperbaiki pendekatan-pendekatan kita untuk tidak hanya meningkatkan daya saing tapi juga daya keberlanjutan dari kegiatan kepariwisataan,” kata dia.

Karena itulah, Frans menyebutkan kondisi lesunya industri pariwisata sekarang ini menjadi momentum untuk menyiapkan destinasi pariwisata ke depan, Sekarang ini waktunya menyiapkan strategi hingga melakukan pembenahan.

Terpisah, Wakil Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia, David Makes (GIPI) berkata jika pariwisata berkelanjutan menjadi peluang yang sangat besar ke depan selepas pandemi, sebab nilai investasinya tidak juga tidak terlalu besar.

“Tanpa harus melakukan reinvestment secara besar-besaran tapi mengkapitalisasi yang sudah ada di sekitar destinasi, namun dengan sedikit sentuhan berkelanjutan,” ujarnya.

Modal alam tersebut mendorong munculnya produk pariwisata baru di sebuah destinasi wisata. “Namun dibutuhkan pemimpin untuk dapat melahirkan yang kita sebut ‘new normal’ pariwisata,” kata Bavid Makes.