BRALING.COM, PURBALINGGA – Sekolah di Kabupaten Purbalingga terus menerus meraih prestasi di Penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah. Pada tahun 2020 ini, SMP Negeri 1 Mrebet didaulat menjadi salah satu sekolahan yang paling bersih lingkungannya di Jawa Tengah.

SMP Negeri 1 Mrebet menjadi satu-satunya sekolah menengah pertama dari Kota Perwira yang mendapatkan Penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah tahun 2020.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menetapkan lima sekolah lolos dalam Adiwiyata Tingkat Kabupaten Purbalingga, dari 13 sekolah yang ada di jenjang SD hingga SMA. Namun, pada akhirnya hanya empat sekolah yang ikut seleksi hingga tingkat provinsi.

Penetapan tersebut diumumkan melalui Surat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Jawa Tengah Nomor 660.1/2012 tentang Penyerahan Penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020.

SMP Negeri  1 Mrebet merupakan Juara 1 Sekolah Adiwiyata kategori SMP/MTs tingkat Kabupaten Purbalingga tahun 2018.

Kemudian empat sekolah terbaik level kabupaten diajukan ke tingkat provinsi untuk mengikuti Lomba Sekolah Adiwiyata tingkat lanjutan.

“Untuk acara penyerahan penghargaan berlangsung secara virtual melalui akun YouTube DLHK Jawa Tengah,” kata Kepala SMP Negeri 1 Mrebet, Bambang Riadiyanto dalam rilis yang diterima Braling.com, 8 September 2020.

Bambang mengatakan, walaupun SMP Negeri 1 Mrebet belum meraih yang terbaik di tingkat Provinsi, prestasi tersebut sangat membanggakan bagi Keluarga Besar SMPN 1 Mrebet. Kerja keras yang dilakukan selama ini, mendapatkan hasil yang maksimal.

“Ini adalah perjuangan dan keuletan semua warga sekolah yang selama kurang lebih tiga tahun merintis menjadi sekolah adiwiyata,” kata Bambang.

Seperti diketahui, SMP Negeri 1 Mrebet telah melakukan berbagai upaya demi membuat lingkungan sekolah tetap bersih dan rapi.

Kegiatan tersebut yakni mulai dari menggelar aksi bersih sampah di lingkungan sekolah hingga membuat mural bertema lingkungan di tembok sekolah.

Di luar agenda tersebut, SMP Negeri 1 Mrebet juga intens menjalin kerjasama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Purbalingga untuk membuat program-program bertemakan lingkungan.

Program yang digelar dengan melibatkan seluruh elemen sekolah ini, telah membuat guru hingga siswa di SMP Negeri 1 Mrebet lebih perhatian terhadap kebersihan dan kenyamanan lingkungan sekolah.

prestasi sekolah purbalingga

Bambang berharap program yang selama ini dilaksanakan tidak hanya dilakukan untuk menghadapi lomba semata, akan tetapi program-program sekolah adiwiyata yang sudah ada dapat terus berkelanjutan.

Program Adiwiyata digulirkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah sebagai upaya pelestarian lingkungan hidup.

“Program Adiwiyata juga bertujuan menciptakan lingkungan sekolah sebagai tempat pembelajaran yang nyaman bagi warga sekolah baik guru maupun siswa,” Bambang menjelaskan.

Keberhasilan pelaksanaan Program Adiwiyata yang berkelanjutan bergantung pada aspek edukasi untuk menumbuhkan semangat mencintai lingkungan hidup dan partisipasi semua elemen sekolah dalam pelestarian lingkungan.

Serta penting adanya  kegiatan yang dirancang secara terencana dan menyeluruh. Yang mana kegiatan-kegiatan tersbeut dilaksanakan secara berkelanjutan.

“Ini hasil kerja keras bersama, semoga SMPN 1 Mrebet dengan gelarnya sekolah adiwiyata bisa tetap dijaga lingkungannya agar tetap bersih dan memberikan kenyamanan pada proses belajar mengajar,” imbuh Bambang Riadiyanto.

Sementara itu, Koordinator Tim Adiwiyata SMP Negeri 1 Mrebet, Hayah berkata bahwa “mendapat kabar masuk adiwiyata tingkat provinsi membuat kami senang.”

“Dan (kami) terdorong untuk terus mewujudkan sekolah yang yang tidak hanya hijau dan rindang tapi bagaimana program dan aktivitas pendidikan mengarah kepada kesadaran dan kearifan terhadap lingkungan hidup,” kata Hayah menambahkan.

Secara terpisah, salah satu guru sekolah, Agus Triono juga berharap, budaya bersih, sehat dan peduli lingkungan di sekolah dan tempat tinggal bisa dipertahankan. Dengan begitu, sekolah bisa terus menerapkan budaya bersih sesuai kriteria Adiwiyata.

Penerapan budaya itu bisa dilakukan dengan cara mengingatkan diri sendiri dan siswa membuang sampah dibedakan tempatnya antara organik dan anorganik.

“Juga akan terasa asyik ketika kita sebagai guru menggunakan lingkungan sebagai media atau tempat untuk pembelajaran. Jadi pembelajaran tidak di kelas saja,” kata Agus menjelaskan.