BRALING.COM, JAKARTA – Sekalipun tren penjualan properti di tahun 2020 ini mesosot tajam karena hantaman Pandemi Covid-19, ternyata minat calon pemilik rumah untuk menggunakan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Syariah malah menampilkan tren kenaikan.

Rumah.com merilis data survei yang menyebutkan bahwa jika pada kuartal (empat bulanan) pertama tahun 2020 hanya 29% responden lebih melirik KPR syariah ketika melakukan pembelian rumah.

Nah, dari survei berjudul “Rumah.com Consumer Sentiment Study H2 2020” itu, ternyata pada kuartal kedua tahun 2020 ini, minat menggunakan KPR Syariah sudah meningkat menjadi 35%.

Sementara peminat KPR konvensional justru merosot. Dari 37% responden di kuartal pertama tahun 2020 menjadi hanya 29% responden saja yang berminat terhadap KPR konvensional di kuartal kedua tahun 2020.

Alasan Memilih KPR Syariah.

Naiknya minat calon konsumen properti pada KPR Syariah sejalan dengan perkembangan industri perbankan syariah yang menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun.

Data industri perbankan menunjukkan, dalam kurun tahun 2014 hingga 2018, perbankan syariah mampu mencatat Compounded Annual Growth (CAGR) sebesar 15%, lebih tinggi dari industri perbankan nasional yang mencatat CAGR sebesar 10%. Data perbankan juga menunjukkan adanya tren positif KPR syariah.

“Alasan utama nasabah memilih KPR syariah karena kebutuhan konsumen akan kepastian besaran cicilan bulanan (fixed rate). Alasan lainnya karena ada fenomena sentimen keagamaan atau ‘hijrah’ yang cenderung meningkat selama beberapa tahun terakhir,” kata Marine Novita, Country Manager Rumah.com.

Dikutip dari Marketeer.com, KPR Syariah memiliki besaran cicilan bulanan yang tetap sebab akad kredit didasarkan atas harga rumah di masa depan.

Baca: Punya 2 Rumah Sakit Baru, Kualitas Kesehatan Masyarakat Purbalingga Harus Lebih Baik

Dalam konsep syariah, harga dan cicilan sudah ditentukan sejak awal perjanjian sehingga besaran cicilan bersifat tetap sampai lunas. Sehingga, nasabah KPR Syariah tidak dipusingkan jika ada kenaikan bunga perbankan.

Pada lain sisi, KPR Konvensional menerapkan sistem penetapan bunga bersifat mengambang alias floating. Yang mana tergantung pada kondisi pasar.

Marine menjelaskan bahwa konsumen bisa memanfaatkan fasilitas KPR syariah untuk membeli rumah impian, kendati di tengah pandemi. Sebab sekarang ini sedang terjadi penurunan indeks harga dan kenaikan suplai properti.

“Saat ini pasar properti sedang mengalami penurunan indeks harga dan kenaikan suplai sehingga berada pada kondisi buyer’s market,” jelas Marine.

“Oleh karenanya, penyedia suplai properti melakukan koreksi harga untuk menjaga daya tarik properti, di mana konsumen akan dimanjalan dengan suku bunga rendah, pilihan properti yang lebih banyak, dan daya tawar yang lebih tinggi,” Marine menambahkan.

Saat Tepat Beli Rumah.

Secara terpisah, CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengakui Pandemi Covid-19 telah memberikan dampak terhadap penurunan tingkat penjualan properti hunian.

Dikutip dari Tempo.co, Ali Tranghanda memperkirakan akan ada penurunan penjualan properti hunian hingga 15-25 persen, sampai akhir tahun 2020 ini.

“Kuartal IV kemungkinan akan turun cukup dalam sehingga hingga akhir tahun penurunan sektor properti mencapai 15 persen hingga 25 persen. Tahun lalu juga masih lebih rendah dibandingkan dengan 2018 yang 5,4 persen,” kata Ali Tranghanda, 15 September 2020.

Dengan kondisi begitu, Ali menyarankan bagi calon pembeli rumah tidak perlu menunda pembelian rumah, meskipun masih pandemi Covid-19.

Sebab, menurut Ali, saat ini merupakan waktu yang tepat membeli properti di tengah berbagai macam promo dan kemudahan pembayaran oleh para pengembang.

“Yang saat ini paling terdampak ya segmen menengah ke bawah,” kata Ali Tranghanda.